Jumat, 25 Maret 2011

Wasiat Wastu Kancana

“Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu, pepet byakta warta manah, mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu".

“Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu, pepet byakta warta manah, mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu”.

Kitu keh, sang pandita pageuh kapanditaanna, kreta ; sang wiku pageuh di kawikuanna, kreta  sang ameng pageuh di kaamenganna, kreta ; sang wasi pageuh dikawalkaanna, kreta ; sang wong tani pageuh di katanianna, kreta; sang euwah pageuh di kaeuwahanna, kreta; sang gusti pageuh di kagustianna, kreta; sang mantri pageuh di kamantrianna, kreta; sang masang pageuh di kamasanganna, kreta; sang tarahan pageuh di katarahanna, kreta ; sang disi pageuh di kadisianna, kreta ; sang rama pageuh di karamaanna, kreta ; sang prebu pageuh di kaprebuanna, kreta.

Ngun sang pandita kalawan sang dewarata pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa, pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh”.
Naskah Wastukencana diatas diterjemaahkan didalam Sejarah Jawa Barat, sebagai berikut :
“Teguhkeun, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuhkan kenyataan niat baik dalam jiwa, maka akan sejahteralah dunia, maka akan sentosalah jagat ini sebab perbuatan manusia yang penuh kebajikan.
Demikianlah hendaknya. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejakhtera. Bila wiku teguh dalam tugasnya sebagai wiku, akan sejakhtera. Bila manguyu teguh dalam tugasnya sebagai akhli gamelan, akan sejakhtera. Bila paliken teguh dalam tugasnya sebagai akhli seni rupa, akan sejahtera. Bila ameng teguh dalam tugasnya sebagai pelayan biara, akan sejakhtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejakhtera. Bila wasi teguh dalam tugasnya sebagai santi, akan sejakhtera. Bila ebon teguh dalam tugasnya sebagai biarawati, akan sejakhtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejakhtera. Demikian pula bila walka teguh dalam tugasnya sebagai pertapa yang berpakaian kulit kayu, akan sejahtera. Bila petani teguh dalam tugasnya sebagai petani, akan sejakhtera. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejakhtera. Bila euwah teguh dalam tugasnya sebagai penunggu ladang, akan sejahtera. Bila gusti teguh dalam tugasnya sebagai pemilik tanah, akan sejahtera. Bila menteri teguh dalam tugasnya sebagai menteri, akan sejahtera. Bila masang teguh dalam tugasnya sebagai pemasang jerat, akan sejaktera. Bila bujangga teguh dalam tugasnya sebagai ahli pustaka, akan sejahtera. Bila tarahan teguh dalam tugasnya sebagai penambang penyebrangan, akan sejahtera. Bila disi teguh dalam tugasnya sebagai ahli obat dan tukang peramal, akan sejahtera. Bila rama teguh dalam tugasnya sebagai pengasuh rakyat, akan sejakhtera. Bila raja (prabu) teguh dalam tugasnya sebagai raja, akan sejahtera.

Demikian seharusnya pendeta dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia.
Tulisan tersebut diatas tercantum didalam naskah Sanghyang siksakanda (Koropak 630) tentang Tuntutan untuk membiasakan diri berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu) dan membiasakan diri berbuat kesejahteraan yang sejati (pakena kereta bener) yang merupakan sumber kejayaan dan kesentausaan negara.
Dari wasiat ini mengandung pula konsep tentang bagaimana manusia harus memiliki laku yang baik dan professional dibidang keahliannya. Tuntunan ini Lebih maju dari praktek kenegaraan sekarang. Saat ini banyak bukan negarawan mengurusi masalah Negara. Para ahli agama banyak yang terjun jadi politikus, banyak politikus jadi pedagang, banyak kaum pedagang jadi penentu kebijakan Negara. Semuanya menyebabkan kerancuan dan menjauhkan bangsa dari kesentosaan.

Konsep dan tipe kondisi yang diharapkan pernah dikemukakan BK dalam bentuk partai tunggal, yang mengharapkan bukan pada banyaknya partai yang ada tapi menghimpunan seluruh kepentingan profesi, seperti keompok tani, buruh, cendekiawan, agama dll. namun memang dari kacamata demokrasi barat dianggap sangat bertentangan dengan kebebasan individu warga dan dianggap anti demokrasi. Ditambah waktu itu, BK tidak mau tunduk pada kuasanya asing.

Wujud ini pernah ada pada konsep selanjutnya tentang adanya Golongan Karya, yang bercita-cita agar seluruh warga bangsa dapat menghimpun kekuatannya didalam wujud profesinya. Namun godaan untuk bermain politik praktis dan kekuasaan, serta adanya pengaruh asing yang sangat eksis dalam menentukan kebijakan politik dan ekonomi ternyata menjadi penghancur yang sangat dahsyat didalam perkumbuhan social bangsa, bahkan menjadikan Indonesia tidak mandiri didalam ekonomi, tidak berdaulat didalam berpolitik dan tidak memiliki kepribadian didalam budaya.

Mungkin kita perlu renungkan kembali tentang nilai-nilai luhur melalui Wasiat dari Galungung :
Hana nguni hana mangke – Tan hana nguni tan hana mangke Aya ma baheula hanteu teu ayeuna – Henteu ma baheula henteu teu ayeuna – Hana tunggak hana watang – Hana ma tunggulna aya tu catangna.
(ada dahulu ada sekarang, karena ada masa silam maka ada msa kini. Bila tidak ada masa silam maka tiada masa kini. Ada tonggak tentu ada batang. Bila tak ada tonggak tentu tidak ada batang. Bila ada tunggulnya tentu ada catangnya).Semoga ambeg paramarta.

Sumber : http://tuturussangrakean.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...