Senin, 01 November 2010

LAGU RAKYAT

Lagu yang telah merakyat dan populer di masyarakat. Masalahnya sekarang akan batas kurun waktu. Umpamanya berapa tahun lagu itu bisa digolongkan sebagai lagu rakyat. Memang diketahui bahwa kebanyakan lagu-lagu rakyat anonim dan telah lama hidupnya. Ada pula yang diketahui pengarangnya, diketahui populernya lagu itu dan kini telah menjelma menjadi sebutan lagu rakyat. Dengan demikian, kurun waktu untuk pengertian lagu-lagu rakyat bukan merupakan suatu jaminan sebab banyak lagu-lagu yang telah lama justru hilang dan tidak diketahui oleh umum.

Kebanyakan lagu-lagu rakyat hidup di kalangan lagu anak-anak. Lagu ini seiring dengan gerak-gerak permainan. Lagu-lagu rakyat biasanya lebih sederhana, tidak berliku-liku dalam melodinya. Sifatnya spontan. Gambaran lagu kalau dilihat dari tema-temany adalah permainan, kelakuan seseorang, perjuangan dan lain-lain. Dalam beberapa hal sering didapati bahwa kata-katanya itu tidak diketahui/dimengerti. Lagu-lagu rakyat Sunda banyak yang tidak diketahui maksudnya. Bahkan generasi sekarang hanya mengenal lagunya saja, tanpa mengetahui isi dari kata-katanya.

Di kota-kota besar lagu-lagu rakyat itu sudah sangat jarang diketahui oleh anak-anak. Mungkin dalam beberapa hal mereka merasa asing. Kalaupun ada, mereka mendengar dari hasil rekaman yang telah banyak diolah ke dalam tangga nada diatonis. Apa yang sering dikumandangkan oleh remaja-remaja sekarang tentang lagu rakyat pengolahannya sudah diatonis. Dari penampilan mereka terkadang dirasakan menjadi sangat asing, karena interpretasi mereka terhadap lagu rakyatnya sudah sangat lain sekali. Kelainan mereka itu mungkin karena dua hal. Pertama karena tangga nadanya sudah diatonis, kedua karena mereka hanya tahu dari mulut ke mulut tanpa mempelajari secara khusus dengan pengertiannya sekaligus.

Lagu-lagu rakyat yang masih populer hingga sekarang antara lain: Cing cangkeling, Ayang-ayang gung, Pacublek-cublek uang, Ambil-ambilan, Sorban Palid, Es Lilin, Warung Pojok dan lain sebagainya..

Kebanyakan dari lagu-lagu rakyat yang erat hubungannya dengan gerak-gerak dan permainan, mempergunakan laras salendro, sedangkan beberapa lagu yang sebenarnya tidak erat dengan permainan mempergunakan laras pelog atau madenda.

Lagu-lagu rakyat akan terus berkembang selama para kreatornya terus berkreasi. Hanya mungkin dari sekian jumlah ciptaannya paling-paling hanya beberapa buah saja yang akan sangat populer dan merakyat di masyarakat. Contohnya lagu Es Lilin dan Warung Pojok yang bisa menembus untuk diakui sebagai lagu rakyat (Lagu-lagu ini diketahui penciptanya).

Lagu Pupujian

Lagu berbentuk syair berisi tentang pengajaran agama Islam, nasihat, puji kepada Allah, salawat untuk serta doa, Lagu pupujian tanpa menggunakan iringan sering dibawakan di masjid atau madrasah, biasa sebelum dilaksanakan shalat, ceramah dan kegiatan lainnya. Saat ini lagu-lagu pupujian berbahasa Sunda (Tagoni, Qasidah) telah berkembang pesat dengan bentuk dan nama yang baru seperti Nasyid, penyajiaanya tidak hanya di masjid atau madrasah, tetapi telah pula ditempat-tempat keramaian, termasuk dalam perayaan keagamaan, khitanan, pernikahan dan lain sebagainya. Mang Koko dengan Rumpaka dari RAF banyak membuat lagu-lagu Pupujian ini, seperti lagu Hamdan, Ajilu, Shalawat Bani Hasim, dsbnya.

Penyajian Sekar
Berdasarkan kepada penyajiannya, sekar dapat dibagi menjadi: Anggana Sekar, Rampak Sekar, Layeutan Suara, Sekar Catur, Drama Suara.

3.1. Anggana Sekar
Sekar yang dibawakan oleh satu orang. Penyanyi sekar secara mandiri ini bermacam-macam namanya; dalam Tembang disebut Juru Mamaos atau Penembang, dalam kawih biasa disebut juga Juru Sekar/Juru Kawih, dalam kiliningan biasa disebut Sinden, dan pada Ketuk Tilu Buhun disebut Ronggeng. Nama-nama itu adalah nama-nama yang mandiri dan biasanya ditujukan kepada penyanyi wanita. Penyanyi pria lebih dikenal dengan sebutan Wira Swara.

Lagu-lagu klasik kebanyakan bersifat anggana, jarang sekali dibawakan secara bersama, kecuali telah mendapat sentuhan kreatifitas untuk disajikan menjadi bentuk lain. Keistimewaan lagu-lagu anggana adalah kebebasan dalam berimprovisasi, terutama dalam pengisian mamanis/ornament/dongkari. Makin tinggi teknik-teknik dalam pengolahan sekar, maka makin semaraklah lagu itu. Tentu saja dalam beberapa hal harus diperhatikan adu manisnya agar dalam mengolah lagu itu tidak menjadi berlebihan.

3.2. Rampak Sekar
Nyanyian yang sama dalam satu tahap suara dibawakan bersama-sama. Rampak Sekar sangat populer pada lagu-lagu Kawih. Lingkungan yang banyak mengetengahkan lagu-lagu rampak sekar adalah para pelajar. Hal ini sebenarnya berlanjut dari system klasikal dalam pelajaran bernyanyi di kelas. Sebelum mengenal istilah rampak sekar (Rampak=Bersama, Sekar=Nyanyian) terlebih dahulu dikenal istilah Panembrama. Pada dasarnya rampak sekar maupun panembrama sama saja. Lagu yang dibawakan satu tahap suara. Perbedaan hanya terletak pada pemilihan lagu-lagunya. Dalam Panembrama jiwa lagunya kebanyakan mengambil lagu-lagu yang mempunyai gerakan anca, isi rumpakanya menggambarkan kegembiraan, ucapan selamat kepada para tamu dan maksud dari diselenggarakan pergelaran. Lagunya antara lain Kadewan.

Dalam rampak sekar tema lagu dan sanggiannya lebih berpariasi, bisa bernafaskan kepahlawanan, cinta tanah air, keindahan alam dan lain sebagainya. Istilah Karatagan (Mars) sering digunakan mengawali judul lagu untuk menggambarkan tema kepahlawanan.

Rampak Sekar kebanyakan diiringi dengan waditra Kacapi, apabila menggunakan iringan gamelan maka biasa disebut Gerongan.

3.3. Layeutan Swara
Karena pada mulanya rampak sekar itu merupakan lagu yang dibawakan dalam satu tahap suara saja, maka perkembangan kreasi baru terasa menuntut lain tentang pengertian ini. Apa yang dikatakan rampak sekar sekarang sudah tidak lagi mengetengahkan satu tahap suara saja, tetapi sudah berkembang menjadi dua tahap, tiga tahap bahkan empat tahap suara. Untuk bentuk penyajian lagu yang demikian maka lahirlah istilah Layeutan Suara. Istilah ini banyak dipopulerkan oleh kreasi-kreasi Mang Koko. Layeutan Suara identik dengan istilah Paduan Suara dalam musik.

Jumlah peserta layeutan suara dapat berjumlah dari 10 orang sampai 30 orang. Jumlah itu tidak tetap, bisa dikembangkan menurut kebutuhannya. Pada perkembangan sekarang, lagu-lagu Sunda sudah bisa diketengahkan dalam suatu aubade, dimana jumlah penyanyinya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Untuk istilah layeutan suara, Pak Machyar Anggakusumadinata menyebutnya dengan istilah Pra Lagam (banyak lagamnya).

3.4. Sekar Catur
Lagu yang dibawakan secara berdialog disebut Sekar Catur (Sekar=nyanyian, Catur=ceritera, obrolan). Bentuk seperti ini sangat banyak sekali. Pada lagam sindenan, lagam kawih, lagu sekar catur ini sangat dikenal sekali. Begitu pula pada bentuk jenaka Sunda. Para kanca Indihiang pimpinan Mang Koko pada tahun empat puluhan menjadi pelopor dalam pengembangan bentuk lagu-lagu sekar catur.

Bentuk lagu Sekar Catur ini biasanya mempunyai tema masalah. Masalahnya dapat diambil dari kehidupan sehari-hari, problem suami istri, percintaan atau kritikan-kritikan terhadap kepincangan yang ada di masyarakat. Ungkapan lagu yang dinyanyikan dalam tekniknya mempergunakan jalur Sekar Biantara, artinya nyanyian yang dinyanyikan dalam lagam bicara, jadi fungsi pemanis-pemanis lagu tidak terlalu menonjol karena beberapa hal kejelasan kata-kata dalam lagu sangat penting sekali.

3.5. Drama Suara
Ceritera yang dibawakan dengan media suara sebagai penghantarnya. Drama Suara ini lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Gending Karesmen. Berbeda dengan bentuk lagu sekar catur, maka dalam bentuk drama swara sekar atau vocal secara langsung mendominasi ungkapan yang akan diketengahkan kepada penontonnya.

Dalam drama suara, sekar mempergunakan berbagai laras. Transposisi dan modulasi sangat kaya sekali dalam bentuk ini. Juru Sekar dituntut kemampuan yang lebih sebagai pemain drama suara. Selain mempunyai suara yang baik, dituntut pula kemampuan “pemeranan” (gerak, acting, menari, menghapal naskah, dan sebagainya).

Semua bentuk sekar dapat diketengahkan dalam bentuk drama suara, baik tembang, kawih, ketuk tilu maupun sindenan. Tetapi ada pula drama suara yang hanya mengetengahkan salah satu bentuk sekaran saja, misalnya drama suara dalam media tembang. Namun ada beberapa kekurangan yang harus diperhatikan apabila drama suara hanya mengambil bentuk tembang saja yaitu:

(1) Lagam dialog yang terlalu mementingkan mamanis, sehingga berakibat kurang terarah pada tema ceritra atau ungkapan dialog itu sendiri untuk diketahui maksudnya.

(2) Takaran jiwa tembang yang telah mengendap secara khusus. Dalam hal ini sering terjadi pemerkosaan terhadap jiwa lagu dari tembang itu sendiri karena kebutuhan dialog yang diungkapkan.

(3) Surupan yang terlalu rendah dan motif lagu yang monoton kurang memberi suasana terhadap jalur ceritera yang diketengahkan. Hal ini akan terasa pada nafas-nafas kemarahan yang terkadang kurang terjangkau oleh tembang.

Drama suara yang baik sebenarnya cenderung untuk disanggi secara khusus. Apabila akan menambahkan beberapa lagu tradisi atau bentuk sekar lainnya, alangkah baiknya apabila jiwa lagu itu disesuaikan dengan kata-katanya. Drama suara merupakan cirri khas dari karawitan daerah Sunda (Jawa Barat).

KARAWITAN VOKAL/SEKARAN

Pengertian
Yang dimaksud dengan karawitan vokal atau lebih dikenal dalam karawitan Sunda dengan istilah Sekar ialah seni suara yang dalam substansi dasarnya mempergunakan suara manusia. Tentu saja dalam penampilannya akan berbeda dengan bicara biasa yang juga mempergunakan suara manusia. Sekar merupakan pengolahan yang khusus untuk menimbulkan rasa seni yang sangat erat berhubungan langsung dengan indra pendengaran. Dia sangat erat bersentuhan dengan nada, bunyi atau alat-alat pendukung lainnya yang selalu akrab bertdampingan

Pada kehidupan orang Sunda pada masa lalau sejak mereka lahir secara tidak langsung telah didekatkan dengan alunan sekar. Sejak mereka lahir sang ibu menimang, meninabobokan dengan menggunakan sekar. Dalam mengajak bermain, dalam tahap-tahap mulai belajar bicara, belajar berjalan, sekar sangat sering didengarkan oleh orang tua atau pengasuhnya. Itulah sebabnya lagu-lagu dalam meninabobokan atau ngayun ngambing anak selalu populer dari masa ke masa, dalam arti kelestariannya terlihat karena selalu dilakukan dari generasi ke generasi.

Seperti telah diterangkan di atas, sekar mempunyai kedudukan yang tersendiri dalam kehidupan karawitan, walaupun pada dasarnya sekar berbeda dengan bicara biasa, sekar sangat dekat bahkan terkadang sangat dominant dengan lagam bicara atau dialek. Dialek Cianjur, Garut, Ciamis, Majalengka dalam mengungkapkan percakapan seringkali seolah-olah bermelodi seperti bernyanyi. Oleh karena kesan dialek yang sangat erat itulah kiranya banyak orang luar daerah Sunda yang secara tidak langsung menyebutkan bahwa cara bicara orang Sunda seperti bernyanyi. Memang erat dengan penggunaan kata-kata di dalamnya tetapi kata-kata dalam sekar telah diolah sedemikian rupa sehingga berbentuklah penampilan secara utuh menjadi sebuah komposisi lagu. Dengan demikian, jelaslah bahwa kata dalam kedudukan sekar merupakan salah satu alat pengungkap masalah atau tema yang diketengahkan. Kata yang sama dapat diungkapkan dalam berbagai lagu/melodi, menurut kehendak rasa seni si pencipta itu sendiri. Akan tetapi tanpa disadari bahwa terkadang dalam kehidupan sekar tidak selalu dipergunakan kata secara utuh, sering terdengar suara bunyi dijadikan lagu. Hal ini sering terjadi dalam lagu-lagu tertentu, misalnya hanya mempergunakan bunyi a saja atau nang neng nong atau hm dan lain-lain. Penggunaan kata yang tidak jelas sering didapati apabila bersenandung atau ngahariring/hariring.

Dari kesimpulan itu, dapatlah ditarik beberapa hal yang sangat erat bertalian dengan sekar, yaitu: Lagam bicara dialek adalah khas daerah tertentu dalam berbicara sehari-hari yang dari ungkapannya dapat kita tarik satu garis melodi yang sangat erat bertalian dengan nada. Contoh dapat ditemukan dalam kata Punten, Masya Allah di daerah Cianjur. Khusus untuk lagam bicara ini dalam gending karesmen, sering ditemukan teknik bernyanyi dan lagu yang dipergunakan dalam dialog yang secara utuh mempergunakan lagam bicara. Hanya dalam pengungkapannya dilakukan lagam bicara. Jadi, dia berbicara dalam nada. Sifatnya kebanyakan datar atau melengking tinggi. Lagu yang demikian dikenal dengan sebutan sekar biantara (nyanyian bicara). Dalam pergelaran wayang golek sangat terasa sekali dalam memerankan/antawacana tokoh-tokoh tertentu yang selalu mempergunakan lagu bicara, sangat terasa pula dalam nyandra.

Contoh kata-kata yang sangat lekat dengan lagu dalam lagam bicara antara lain:
  1. Pun……ten
  2. Sorangan bae yeuh…….!
  3. Tunjuk-tunjuk hey, sakali deui…hey!
Dalam pergelaran wayang golek, hal ini akan terasa pada tokoh Semar, misalnya pada biantara di bawah ini:
Aduh aduh ngeran
Sumangga ieu abdi lurah Semar Kudapawana nyanggakeun sembah pangbakti
Ageung alit kalepatan mugia ngahapunten, Ngeran……..

Beberapa sebutan yang berkaitan dengan sekaran

1.1. Ngahariring (Senandung)
Sifat dari ngahariring biasanya dibawakan secara halus sekali, pemakaian kata dalam lagu lebih menonjol kata bunyi. Pengertian halus disini lain sekali dengan dinamika lagu. Halus dalam membawakan hariring adalah makna dari sikap yang cenderung bernyanyi untuk diri sendiri. Ngahariring dalam kehidupan sehari-hari sangat erat hubungannya dengan pengisi jiwa sambil bekerja. Ngahariring dapat bersifat improvisasi ataupun lagu yang telah ada. Kata bekerja lain dari ngaharirirng adalah bersenandung dengan volume suara yang halus, lunak agar penampilannya itu tidak berisik sehingga mengganggu orang lain. Sering pula hal ini terjadi bila seseorang sedang mempelajari lagu yang belum dikuasai. Suasana ngahariring timbul lebih cenderung dalam keadaan gembira sambil bekerja. Dalam penampilannya, ngahariring dapat saja menjadi lain, hal ini tergantung dari kalimat yang dipergunakan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ngahariring adalah bernyanyi hanya ungkapannya lebih dalam untuk diri sendiri atau dengan kata lain kesannya lebih subjektif.

1.2. Ngahaleuang
Pada dasarnya ngahaleuang berarti bernyanyi. Haleuang berarti nyanyian/sekar. Kalau dilihat dari sifat penyajiannya ngahaleuang terasa lebih terbuka, lebih keluar dan lantang. Jadi, pengaruh terhadap surupan itu sendiri sangat kuat sekali. Lagu-lagu Tembang sangat jarang ditafsirkan sebagai ngahaleuang. Dilihat dari tempo lagu, biasanya istilah ngahaleuang banyak mempergunakan tempo sedang.

1.3. Galindeng
Kata Galindeng erat sekali dengan sekar, bahkan sering sekali menunjukan arti suara dari seorang penyanyi yang biasanya lebih tepat pada suara-suara yang empuk, halus. Ngagalindeng artinya suara (nyanyian) yang dibawakan secara penuh perasaan, terutama pada suara-suara (bagian melodi) yang penuh dengan mamanis (kembangan-kembangan)

1.4. Babaung
Penempatan kata babaung adalah tahap kata yang kasar untuk bernyanyi. Biasanya kalau suaranya tidak enak atau membetulkan agar nyanyiannya dilakukan yang benar. Itu pun terbatas pada kelakar atau sindiran tertentu saja, dilakukan pada orang yang lebih muda atau sesama yang sudah akrab.

1.5. Kakawihan dan Tetembangan
Walaupun pada dasarnya Tembang dan Kawih berbeda lagam, pengertian kakawihan dan tetembangan mempunyai arti yang sama. Kakawihan atau Tetembangan ialah menyanyikan lagu dengan cara-cara seenaknya, cenderung mengisi suasana untuk diri sendiri. Sebagai contoh ketika sedang mandi, sedang berdandan, melakukan pekerjaan dan lain-lain. Lagunya yang telah hapal atau sering pula diberi improvisasi-improvisasi spontan.

Pembagian Sekar Menurut Bentuk
Menurut bentuk ditinjau dari penggunaan irama, karawitan sekar dibagi dua bagian besar yaitu : Sekar Irama Merdeka (bebas irama) dan Sekar Tandak (ajeg, tetap)

2.1. Sekar Irama Merdeka
Yang dimaksud dengan sekar irama merdeka ialah sekar (vokal, nyanyian) yang dalam membawakan lagunya tidak terikat oleh irama. Panjang pendeknya dalam membawakan lagu, terutama pada bagian-bagian frase lagu (kenongan, goongan) bebas menurut keinginan juru sekar itu sendiri. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa kebebasan itu bisa berlanjut panjang tanpa ketukan sama sekali, ketukan masih tetap ada, hanya sifatnya semu yang bersatu dalam ungkapan perasaan pada waktu membawakan lagunya. Para tokoh tembang lebih cenderung menyebutnya dengan istilah wirahma.

Lagu-lagu yang dibawakan sekar irama merdeka biasanya bersifat lagu anggana (solo) dengan melodi lagu yang masih bisa dikembangkan oleh pribadi-pribadi penyanyi terutama dalam menghias mamanis-mamanisnya. Mamanis-mamanis itu akan terasa pada senggol-senggol atau pedotan kenongan dan goongan lagu. Dikenal beberapa istilah seperti : Leot, Cacag, Galasar, Reureueus, Gedag dan lain-lain.

Materi-materi sekar yang terdapat pada kelompok sekar irama merdeka antara lain: Tembang, Beluk, Kakawen.

2.1.1. Tembang
Tembang Sunda sangat populer sekali dalam masyarakat Sunda. Tembang Sunda dikenal sebagai musik kamar (kamermuziek). Cirri khas dalam iringan tembang Sunda adalah iringan kacapi sulingnya. Pada awalnya Tembang Sunda hidup dalam lingkungan menak-menak (elite). Isi ungkapan yang diketengahkan dalam tembang Sunda antara lain tentang:
a. Sanjungan terhadap leluhur, terutama pada kejayaan dan “tilemnya” kerajaan Pajajaran
b. Keindahan-Keindahan alam Priangan
c. Ungkapan percintaan. Tema percintaan yang diketengahkan banyak gambaran tentang seseorang yang jatuh cinta atau merasa sakit hati karena dikhianati cintanya.

Tembang sangat erat bersentuhan dengan kesusatraan. Satu hal yang paling menojol adalah Pupuh. Ada beberapa pendapat bahwa kehadiran dan perkembangan tembang banyak tali-temalinya dengan pengaruh pupuh yang masuk pada jaman Mataram dahulu. Walaupun demikian, banyak pula yang tidak mempergunakan pupuh sebagai ugeran (patokan) untuk rumpakanya (syair lagu), yaitu dengan mempergunakan bentuk papantunan. Bahkan pada perkembangan sekarang, tidak menutup kemungkinan menggunakan sajak-sajak bebas. Dari kekebasan penggunaan rumpaka atau iringan, terbetiklah bentuk lain yang lebih bersifat style (gaya), diantaranya dikenal dengan nama-nama: Papantunan, Jejemplangan, Rarancagan. Sedangkan lagam-lagam dari Tembang Sunda diketahu ada Lagam Cianjura, Ciawian, Cigawiran, Garutan, Sumedangan.

Memang demikianlah bahwa nama daerah itu akhirnya yang menjadi nama dari lagam-lagam itu. Kalau kita lihat dari penyajian karawitan memang terdapat kebedaan-kebedaan yang cukup menyolok. Misalnya saja antara bentuk Cianjuran dan Ciawian. Perbedaannya banyak pula dipengaruhi oleh penggunaan laras. Cianjuran kebanyakan berlaras pelog, sedangkan Ciawian banyak mempergunakan laras salendro. Hal lain banyak terletak pada interpretasi ungkapan lagu. Sekaligus membedakan dalam menempatkan unsure-unsur mamanis didalamnya.

Kalau masyarakat luas lebih banyak mengenal Tembang Cianjuran tentunya bukan berpijak pada nilai-nilai yang terkandung dalam kedua lagam itu, tetapi dari histories penyebarannya, lagam Cianjuran ternyata lebih meluas. Sampai-sampai ada keinginan untuk menyebut tembang Sunda itu sebagai tembang Cianjuran saja.

Beberapa nama lagu dalam Tembang Sunda: Papatet, Mupu Kembang, Jemplang Titi, Liwung, Asmarandana Degung, Jemplang Karang dan lain-lain.

Dalam sekar tembang Sunda Cianjuran, yang menjadi ciri utamanya adalah ornamentasi atau dongkari. Dongkari adalah teknik menghasilkan suara yang diolah dengan cara tertentu guna memberikan mamanis pada lagu. Dalam praktik vokal tembang Sunda Cianjuran, kedudukan dongkari sangat penting karena merupakan dasar utama bagi vokal tembang Sunda Cianjuran. Oleh sebab itu, materi ini perlu diberikan terlebih dahulu sebagai dasar pijakannya. Apabila semua dongkari ini sudah dapat dikuasai dengan baik, maka untuk mempelajari lagu-lagu selanjutnya tidak akan sukar. Sekurang-kurangnya, dongkari dalam vokal tembang Sunda Cianjuran terdiri dari 17 macam yaitu: riak, reureueus, gibeg, kait, inghak, jekluk, rante/beulit, lapis, gedag, leot, buntut, cacag, baledog, kedet, dorong, galasar, dan golosor. Untuk lebih jelasnya, ketujuh belas dongkari tersebut adalah sebagai berikut.

2.1.1.1. Riak
Menurut Kamus Umum Basa Sunda, riak artinya nimbulkeun cahaya nu siga ombak-ombakan (menimbulkan cahaya seperti gelombang). Sedangkan menurut Bakang Abubakar, istilah riak sama dengan istilah ombak banyu yang artinya gelombang air (Sarinah l994:121). Adapun teknik penyuaraan dongkari riak yaitu mengeluarkan getaran suara pada nada yang tetap yang menyerupai gelombang air. Getaran suara dikeluarkan tanpa tekanan, tetapi secara halus tanpa terputus. Contoh: 5 artinya nada 5 (la) dibunyikan dengan halus tanpa terputus menyerupai gelombang air. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lagu Papatet baris pertama, yaitu:

5 . 5 . 5 5 . 5 54 5 . 5451 2

Pa- ja - jaran ka-ri nga- ran

2.1.1.2. Reureueus
Reureueus pada umumnya digunakan oleh para penembang untuk menamakan semua jenis dongkari dalam tembang Sunda Cianjuran. Namun demikian istilah reureueus yang digunakan Euis Komariah memiliki pengertian yang berbeda. Reureueus adalah salah satu macam dongkari yang pada prinsipnya sama dengan riak. Sedikit yang membedakannya yaitu teknik penyuaraan pada dongkari riak tidak mendapat tekanan, sedangkan teknik penyuaraan reureueus yaitu getaran suara yang dikeluarkan pada nada yang tetap mendapat tekanan. Contoh: 5, dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lagu Papatet baris kedua, contoh:

2 15 5 . 5554 3451 2 15 5 22 2 . 2 15

Pangra- ngo geus narik ko- lo - t

2.1.2.3. Gibeg
Gibeg menurut Kamus Umum Basa Sunda artinya yaitu ngobahkeun awak ka gigir make tanaga sarta rikat (menggerakkan badan ke samping dengan gerak cepat). Teknik penyuaraan dongkari gibeg yaitu mengeluarkan suara pada nada yang tetap disertai tekanan, dan dilakukan dengan gerak cepat seolah-olah digibegkeun. Sebagai contoh dapat dilihat pada frase pembuka lagu wanda papantunan, sebagai berikut:

03- 2 2 2 . 1212 2 222 1212 23 . 3 34 3 5

Daweu - eung diajar lu- deu- ng

2.1.2.4. Kait
Kait artinya sama dengan nyangkol yaitu menempel keras karena lilitan tali. Dalam istilah dongkari tembang Sunda Cianjuran, istilah kait mengandung pengertian yaitu gabungan dua buah nada dari nada tinggi ke nada rendah di mana nada pertama dongkari kait menempel/sama dengan nada sebelumnya, kemudian diikuti oleh satu nada yang lebih rendah. Teknik penyuaraannya yaitu bunyi terakhir dari suku kata yang akan diikuti oleh dongkari kait, dibunyikan kembali sebagai jembatan untuk membunyikan suku kata berikutnya. Sebagai contoh dapat dilihat pada frase pembuka lagu wanda papantunan, yaitu:

03- 2 2 2 . 1212 2 222 1212 23 . 3 34 3 5

Daweu - eung diajar lu- deu- ng

2.1.1.5. Inghak
Istilah inghak diambil dari peristiwa menangis yang diterapkan pada dongkari tembang Sunda Cianjuran. Teknik penyuaraannya yaitu pada waktu membunyikan suku kata yang mengandung vokal huruf hidup (a, i, u, e, o), udara sedikit dikeluarkan dengan diberi tekanan sehingga menghasilkan suara yang bunyinya seperti /h/. Diusahakan posisi bibir tidak bergerak saat mengeluarkan udara. Contoh:

03- 2 2 2 . 1212 2 222 1212 23 . 3 34 3 5

Daweu - eung diajar lu- deu- ng

2.1.1.6. Jekluk
Dongkari jekluk yaitu gabungan dua buah nada dari nada rendah ke nada tinggi. Misalnya dari nada 1 ke 5, 4 ke 3. Sebelum membunyikan dongkari jekluk, senantiasa diawali oleh nada yang lebih rendah. Misalnya dari nada 1 ke nada 5, senantiasa diawali dengan nada 2. Dari nada 4 ke nada 3, senantiasa diawali dengan nada 5. Teknik penyuaraan dongkari jekluk harus menggunakan tenaga perut. Contoh, pada lagu Papatet, baris kedua.

02 15 5 . 5554 3451 2 15 5 22 2 . 2 15 .

Pangra- ngo geus narik ko- lo - t

2.2.1.7. Rante/beulit
Dongkari rante/beulit yaitu gabungan dua buah nada atau lebih yang disuarakan dengan cara mengulang nada-nada tersebut sehingga menghasilkan suara yang bila digambarkan menyerupai bentuk spiral atau rante. Contoh dongkari rante/beulit ini bisa dilihat pada lagu Mupu Kembang yang dibawakan oleh A. Tjitjah pada baris kelima, sebagai beriku:

02 15 5 . 4545 4 51 . 2 2 15 5 2 2 2 321

Nya cada - s cada - s ha -re- ra- ng

2.1.1.8. Lapis
Dongkari lapis yaitu penyuaraan satu buah nada yang mengikuti nada sebelumnya. dongkari lapis ini seolah-olah mengulang lagi nada yang sudah dibunyikan oleh dongkari lain. Sebagai contoh bisa dilihat pada lagu Mupu Kembang baris kedua yang dibawakan oleh Euis Komariah, sebagai berikut:

03- 2 2 2 . 1 2 2 2 21 2 . 2 15 0

Angkat ba- ri re- rendenga - n

2.1.1.9. Gedag
Dongkari gedag yaitu menyuarakan satu nada yang tetap dengan mendapat tekanan. Nada tersebut seolah-olah disuarakan dua kali (diulang). Penempatan dongkari gedag senantiasa di awal kata. Sebagai contoh bisa dilihat pada lagu Mupu Kembang baris pertama yang dibawakan oleh Euis Komariah, yaitu

02 2 . 2 2 . 2 2 2 . 12 0

Payung hiji ku dua - an
2.1.1.10. Leot

Dongkari leot yaitu gabungan dua buah nada, dari nada tinggi ke nada rendah misalnya dari nada 5 (la) ke nada 1 (da), nada 2 (mi) ke 3 (na), dan seterusnya. Contoh pada lagu Mupu Kembang baris pertama yaitu:

02 2 . 2 2 . 2 2 2 . 1 2 .

Payung hiji ku dua - an

2.1.1.11. Buntut
Dongkari buntut pada prinsipnya sama dengan dongkari lapis. Perbedaannya terletak pada penempatannya. Kalau dongkari lapis diletakkan di tengah kata dan senantiasa diikuti lagi dengan dongkari lainnya, sedangkan buntut ditempatkan di akhir kata atau kalimat lagu (frase lagu) dan diikuti oleh satu nada yang lebih tinggi. Contoh bisa dilihat pada lagu Mupu Kembang baris keempat dan kelima, sebagai berikut:

03- 2 2 . . 2 2 2 1212 2 1 . 5 5 . 54

Nya keusik - keusik ba-re - n-ti - k

02 15 5 . 5554 3451 2 2 15 5 2 2 2 . 21

Nya ca-da - s cada - s hare - ra - ng

2.1.1.12. Cacag
Dongkari cacag yaitu penyuaraan satu buah nada dengan teknik memberikan tekanan pada nada tersebut secara berulang-ulang dan tidak terputus-putus. Contoh dongkari cacag bisa dilihat pada lagu Jemplang Panganten baris ketujuh.

01 1 222 15 . 3 3 3 3454 23 3454

Kieu ka-ja-di-an- na - na

2.1.1.13. Baledog
Dongkari baledog yaitu gabungan dua buah nada yang disuarakan tanpa tekanan. Dongkari ini senantiasa ditempatkan mengikuti dongkari lainnya seperti gibeg dan gedag. Sebagai contoh bisa didengar pada lagu Mupu Kembang baris kedua, dan Randegan baris kedua yang dibawakan oleh Euis Komariah.

03- 2 2 2 1 2 2 2 212 . 2 15 0

Angkat ba- ri re- rendenga - n

0 3- 2 . 2 1 2 12 . 2 15 0 03-3- 2 3-2 . 2 1

Me -la-------k bako di ba - si - sir

2.1.1.14. Kedet
Dongkari kedet senantiasa ditempatkan di akhir kalimat lagu yang berfungsi untuk madakeun (mengakhiri) lagu. Dongkari ini biasa digunakan dalam lagu wanda jejemplangan. Sebagai contoh bisa dilihat pada frase lagu pembuka wanda jejemplangan berikut ini:

04 4 .4 4 4 34543454 32 . 2 23 . 5

birit leuwi peu - peunta - san

2.1.1.15. Dorong
Dongkari dorong pada dasarnya merupakan dinamika dari suara yang tidak mendapat tekanan menuju nada berikutnya dengan mendapat tekanan. Biasanya dongkari dorong selalu diikuti oleh reureueus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada lagu Jemplang Panganten baris kedua sebagai berikut:

2 2 2 . 1 2222 15 0

Linta ----------------- ng salira anjeunna

Atau bisa juga dilihat pada lagu Jemplang Cidadap baris kelima sebagai berikut:

02 2 2 2 . 1 2222 15 0

Dirungsi -----------------ng

2.1.1.16. Galasar
Dongkari galasar yaitu gabungan dua atau tiga buah nada yang disuarakan seperti diayun, tanpa terputus, dan mendapat tekanan. Sebagai contoh dapat dilihat pada lagu Jemplang Cidadap baris pertama berikut ini:

4 3 3 3 3333 32 0 3 3454 23 3 3454 4

Alap-ala----------p nyorang tuna

Contoh lain dapat dilihat pada lagu-lagu wanda papantunan, misalnya pada frase pembuka lagu-lagu wanda papantunan berikut ini:

03- 2 2 2 . 1212 2 222 1212 23 . 3 34 3 5

Daweu --------------------ng diajar lu- deu- ng

2.1.1.17. Golosor

Dongkari golosor yaitu gabungan beberapa nada dengan teknik penyuaraan tanpa tekanan. Wilayah nadanya yaitu dari nada tinggi menuju ke nada rendah. Sebagai contoh bisa dilihat pada lagu Rajamantri baris keenam, yaitu:

3 .2 34545 5

Hanja------kal saumur-umur

2.1.2. Beluk
Karawitan sekar beluk ini sudah langka sekali. Beluk lebih dikenal pada upacara selamatan 40 hari bagi bayi yang baru dilahirkan. Beluk sangat erat dengan pergelaran nembang wawacan. Memang pada dasarnya kesenian beluk hanya menembangkan cerita dalam wawacan yang tersusun ceritanya dalam bentuk puisi terutama pupuh. Wawacan adalah cerita yang disusun menggunakan pupuh dengan maksud untuk dinyanyikan atau didangdingkeun.

Teknik penyajian beluk dibantu oleh juru ilo. Juru ilo dalah orang yang membacakan cerita dalam bentuk prosa (membaca biasa) yang ditujukan kepada penembang beluk untuk bahan kata-kata yang akan dinyanyikannya. Secara spontan dan penuh variasi, juru beluk menyanyikan kata-kata itu. Frekwensi nada yang digunakan adalah nada yang tinggi sehiingga semakin mahir bermain lagu dalam nada-nada yang tinggii makin tinggilah kemampuan ki juru beluk itu.

Teknik bersuara banyak mempergunakan nasal hidung (sengau). Kata-kata yang dinyanyikan sebenarnya kurang begitu jelas terucapkan karena yang lebih penting bagi pendengar adalah teknik-teknik bernyanyinya itu sendiri. Kalau mereka ingin tahu tentang kata-katanya, sebelum dinyanyikan telah disebutkan secara jelas oleh juru ilo.

Beluk sudah dianggap sebagai kesenian buhun (kolot, tua, lama). Penggunaan sekar irama merdekanya memberikan cirri yang tersendiri dari bentuk kesenian rakyat sebab kebanyakan lagu-lagu rakyat Pasundan banyak mempergunakan irama tandak (terikat)

Kalau dilihat dari penyajiannya, dimana ada unsur cerita yang dinyanyikan, maka mungkin sekali dasar-dasar gending karesmen di dalam karawitan Sunda banyak berpijak dari perkembangan beluk dengan nembang wawacannya.

2.1.3. Kakawen
kakawen lebih dikenal sebagai nyanyian ki dalang pada waktu pergelaran wayang. Isi kakawen antara lain banyak mengisahkan tentang pergantian babak cerita, karakter tokoh wayang, kemarahan-kemarahan, kedatangan tamu dan kekuatan tokoh wayang dalam mengunggulkan dirinya, misalnya pada ajimat-ajimatnya atau kekuatan lainnya. Pada dasarnya kakawen banyak mempergunakan irama bebas merdeka. Hanya pada bagian-bagian tertentu sajalah terdapat bentuk yang tandak. Inipun masih tidak utuh sebab perpaduan panjang pendeknya lagu masih tergantung kepada ki juru dalang itu sendiri.

Pengaruh kakawen masuk pula secara utuh pada Tembang Sunda lagam Cianjuran. Hanya namanya sudah bukan kakawen lagi melainkan dengan nama sebrakan. Sebrakan ini dinyanyikan setelah lagu dalam laras pelog dan sorog/madenda telah selesai atau disajikan secara khusus.

Motif-motif sekar irama merdeka pada pergelaran wayang digunakan pula oleh beberapa tokoh wayang tertentu yang dalam bicaranya dibawakan dengan lagu, seperti untuk tokoh Semar, Rahwana, Dursasana (patet yang digunakan patet Nem), Sangkuni, Togog, Narada (patet yang digunakan patet Manyura). Hal seperti ini disebut antawacana berlagu.

Dalam penyajiannya, kakawen dapat dibeda-bedakan menjadi
a. Murwa
Adalah sekaran permulaan yang dibawakan dalang dengan rumpaka/bahasa Kawi atau pujangga. (Kakawi-an menjadi Kakawen)

Pada prakteknya Murwa terbagi atas

(1) Murwa Umum
Murwa yang dapat dipergunakan untuk bermacam-macam adegan/jejeran, seperti:

Dene utamaning nata
Berbudi bawa laksana
Lire berbudi mangkana
Lela legawa ing dria
Agung denya paring dana
Anggeganjar saban dina
Lire kang bawa laksana
Anatepi pangandika

(2) Murwa Khusus
Murwa yang hanya digunakan khusus untuk suatu adegan/jejeran. Contohnya:
Lengleng ramya nikang, sasangka kum,enyar mangrenge rumning puri
Mangkin tanpa siring, haleb nikang umah, mas lwir nurub ing langit.
Tekwan sarwa manik, tawingnya sinawung sasat sekar sinuji
Ungwan Banowati ywuna amren lalangen nwang nata Duryudana

b. Nyandra
Prolog dalang yang menggambarkan situasi/keadaan sifat, watak, tata hidup dan kehidupan raja dan masyarakatnya dengan segala yang digarapnya dan sebagainya, contoh:

Sri Nalendra ajujuluk ………(.nama raja yang bersangkutan dari suatu Negara)
Mila kinarya bubukaning carita
Jalaran nagri panjang punjung
Pasirwukir loh jinawi
Gemah ripah kerta raharja

c. Renggan
Sekaran dengan rumpaka yang bertemakan gambaran suatu keadaan yang sedang dihadapi agar lebih jelas dan lebih indah didengar, contoh:

Kayu Agung babar wite
Samia rembel gogonge samia rogol yan pangrange
Sekar mekar ing galihe pandele si pandan arum

d. Sendon
Sekaran yang mempergunakan rumpaka untuk menggambarkan adegan sedih/kesedihan, contoh:

Rebeng rebeng cinanda layan kaherin
Wis pinandak perlambange
Perlambang simungkumi

2.2. Sekar Tandak

Sekar tandak ialah nyanyian yang terikat oleh ketentuan-ketentuan ketukan dan matra (wiletan, gatra). Dari ikatan ketukan dan matra-matra banyak berdampingan dengan irama lagu yang dipergunakan. Peraturan-peraturan itu sudah merupakan kaidah tersendiri dari bentuk paduan tandak di antara sekar dan gending. Adapun lagu-lagu dalam ragam sekar tandak dapat kita ketahui sebagai berikut.

(1) Sindenan
Kata Sindenan lebih dikenal pada pergelaran wayang dan kiliningan. Disebut sindenan karena yang membawakannya biasa disebut sinden (waranggana, penyanyi wanita). Lagu-lagu yang dibawakan banyak berpangkal pada bentuk klasik dan tradisional. Walaupun demikian, kreasi-kreasi baru banyak pula dibawakan walaupun dalam beberapa hal telah sedikit berubah warnanya. Perubahan itu sebenarnya banyak dipengaruhi oleh teknik warna suara yang telah khas pada tiap pesinden. Kebanyakan lagu-lagu sinden adalah lagu anggana. Kalau ada beberapa yang bersifat rampak biasanya bersifat kreasi saja. Dalam beberapa penampilan tertentu sindenan mempunyai lagam daerah tersendiri. Lagam itu lebih cenderung disebut pula sebagai gaya (style). Ada dua bagian besar gaya dalam kepesindenan, yaitu: gaya Priangan dan gaya Kaleran.

Yang dimaksud dengan gaya Priangan adalah yang melingkupi daerah Bandung dan sekitarnya, termasuk Priangan Timur. Daerah kaleran antara lain daerah-daerah pesisir utara, seperti Cirebon, Subang dan Karawang.

Salah satu perbedaan yang paling jelas bila kita bandingkan dengan daerah Priangan adalah dalam senggol, dialek dan laras-larasnya. Mengenai hal laras, sindenan gaya Cirebon lebih banyak mempergunakan lagu laras pelog surupan sorog dengan patet Manyuro. Perbedaannya dengan gaya Karawangan banyak terletak pada dialek bahasa dan pada senggol-senggol yang lebih sederhana. Perbedaan dalam senggol terkenal dengan istilah buntut dan buntet. Priangan pada akhir lagu selalu panjang (buntut), sedangkan rata-rata pada senggol kaleran (Subang, Karawang) lebih pendek (buntet). Tetapi karena adanya pembauran, maka sekarang sudah sangat sukar dibedakannya karena baik Cirebon, Karawang maupun Subang sudah melihat Bandung sebagai barometernya. Secara langsung mereka kehilangan kekhasannya. Sebaliknya gaya Prianganpun banyak pula berakibat pada gaya kaleran, terutama Karawang yang lebih banyak diwarnai dengan iringan tepak jaipongan.

Pada dasarnya lagu-lagu sinden banyak mempergunakan laras salendro. Lagu-lagu ageng yang pertama mereka pelajari kebanyakan lagu lagu ageng yang berlaras salendro. Mungkin hal ini disebabkan oleh beberapa pendapat di kalangan para nayaga yang menyebutkan bahwa salendro merupakan “rajana laras”

Satu hal yang tidak bisa dikesampingkan ialah lagu-lagu sindenan selalu diiringi dengan gamelan salendro. Walaupun dalam beberapa hal dibawakan lagu yang tidak berlaras salendro, pirigan (iringan) tetap menggunakan laras salendro dengan mengambil jalur tumbuk. Tumbuk ialah nada-nada yang sama dari laras yang berbeda. Nama-nama lagu sindenan antara lain : Macan Ucul, Senggot, Kulu Kulu Bem, Tablo, Gawil, Kawitan, Badaya, Papalayon Ciamis dan lain sebagainya(2) Kawih

Salah satu lagam dari khazanah seni suara Sunda. Pengertian kawih pada mulanya sama dengan sindenan, tetapi perkembangan memecah kedudukan yang berbeda antara kawih dan sindenan. Perbedaan itu bukan saja terletak pada pergelaran dan teknik-teknik bernyanyi saja, melainkan juga lingkunganna.

Menurut pengamatan yang bersumber pada buku Siksa Kandanf Karesian tahun 1518, masyarakat Sunda telah mengenal kawih dahulu sebelum tembang (pupuh) masuk pada zaman Mataram (abad XVI). Cuplikan dari buku itu mengatakan bahwa telah dikenal bermacam-macam kawih, anatara lain:
  1. Kawih Tangtung
  2. Kawih Panjang
  3. Kawih Lalangunan
  4. Kawih Bongbongkaso
  5. Kawih Parerane
  6. Kawih Sisindiran
  7. Kawih Bwatuha
  8. Kawih Babatranan
  9. Kawih Porod Eurih
  10. Kawih Sasambatan
  11. Kawih Igel-igelan

Ahli seni suara biasa disebut paraguna. Jelaslah bahwa lagam kawih jauh telah lama hidup dalam khazanah karawitan Sunda. Masalahnya sekarang bahwa hal yang tertera di atas hanya merupakan nama saja karena sudah sangat jarang sekali orang-orang yang tahu tentang lagu-lagu kawih yang disebutkan tadi.

Lagu-lagu kawih lebih banyak berorientasi pada lagu-lagu perkembangan (kreasi baru), sedangkan pada lagu sindenan adalah lagu-lagu klasik dan tradisional. Memang yang paling menonjol sekarang pada kawih ialah segi perkembangan lagu-lagu barunya. Lagu-lagu itu lebih banyak bergerak pada lingkungan pendidikan dan kaum remaja tertentu. Hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan, dimana lagu-lagu kawih banyak diciptakan oleh para juru sanggi (komponis) secara khusus untuk kebutuhan program pengajaran. Tokoh-tokoh seperti Rd. Machyar Anggakusumadinata, Mang Koko, OK Jaman, Ujo Ngalagena, Nano. S dan lain-lain membuat buu-buku pelajaran seni suar dalam bentuk kawih.

Kawih berkembang bukan pada bentuk anggana saja, melainkan mulai berkembang pula pada bentuk-bentuk lain, yaitu dengan bentuk-bentuk paduan suara.

Kawih mempunyai sejak yang tersendiri. Hal ini bisa kita perhatikan dari pergelarannya, iringannya dan teknik bernyanyi termasuk didalamnya pemanis-pemanis. Laras-laras kawih dalam lagu-lagu remaja kebanyakan berlaras pelog dan madenda. Laras salendro terasa sangat jarang sekali. Hal ini banyak bersumber pada kreativitas para juru sangginya yang memang sangat jarang menciptakan lagu-lagu dalam laras salendro. Lagam kawih yang terdapat pada tembang adalah pada lagu panambih (ekstra). Lagu panambih adalah lagu tambahan setelah sekar irama merdeka, irama yang dipergunakan tandak. Perbedaan yang menyolok hanya soal surupan saja, dimana kalau tembang surupan rendah (da = G), sedangkan kalau lagam kawih lebih tinggi surupannya (da = A = 440 Hz).

(3) Ketuk Tilu
Lagu-lagunya kebanyakan berirama tandak. Cirri khas dari lagu ketuk tilu adalah dalam iringannya serta melodi lagu yang melengking tinggi dengan warna suar penyanyi wanita yang lincah segar. Keunikan dari penampilan lagu ketuk tilu banyak diwarnai pula dengan kehadiran senggak. Ketuk tilu tanpa senggak rasanya sepi sekali. Keakraban ini telah menjalin suatu warna yang khas yang memberikan warna kemeriahan dan suasana pedesaan (lembur). Senggak adalah suara manusia yang tidak beraturan untuk meramaikan suasana.

Laras-laras yang dipergunakan dalam lagu ketuk tilu kebanyakan laras salendro. Sangat sedikit sekali yang mempergunakanlaras pelog atau madenda. Laras salendro dipergunakan pada ketuk tilu, semarak membawa warna pedesaan, dimana lagu-lagu rakyat banyak dihias dengan warna-warna salendro. Lagu-lagu ketuk tilu buhun sampai kini tetap lestari, tetapi dalam perkembangan akhir-akhir ini banyak lagu-lagu ketuk tilu yang diubah larasnya ke dalam laras degung dan sekaligus diiringi gamelan degung. Tentu saja dalam penjiwaannya kurang sesuai karena lingkungan degung dan ketuk tilu jauh berbeda. Tetapi karena beberapa hal, antara lain rumpaka, teknik menyanyikan, surupan sudah sedemikian rupa diolah ke dalam bentuk kawih, maka tidak jarang orang menganggap seolah-olah lagu itu merupakan ciptaan baru. Nama-nama lagu ketuk tilu yang populer dan terkenal sampai sekarang, antara lain : Polostomo, Geboy, Gaya, Cikeruhan, Bardin.

Penyanyi ketuk tilu mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu mereka harus bisa bernyanyi sambil menari (panggilannya disebut; Ronggeng). Isi lagu-lagu ketuk tilu banyak mengetengahkan sindiran-sindiran cinta atau pikatan supaya seseorang mmberi imbalan materi. Dahulu penyanyi ketuk tilu biasa disebut Ronggeng/Doger. Istilah ini kini jarang dipakai, mungkin karena sebutan itu sendiri sedikit berbau/menyerempet tata susila moral tertentu.4) Lagu Indria

Biasa pula disebut sekar dolanan atau lagu dolanan untuk anak-anak. Secara tradisi lagu-lagu anak banyak terungkap dalam lagu-lagu kaulinan urang lembur. Lagunya dinamis dan sangat akrab dengan gerak. Bahkan dari keakraban itu sendiri berkembang menjadi permainan anak-anak. Pada kesenggangan sore hari, mereka berkumpul, bernyanyi dan bermain. Lagu-lagu yang terkenal seperti Cing cangkeling, Perepet Jengkol, Sasalimpetan, Slep Dur dan lainnya, kebanyakan berlaras Salendro.

Pada perkembangan selanjutnya, lagu anak-anak banyak yang merupakan sanggian-sanggian baru. Laras-laras yang dipergunakan sudah tidak lagi dominant oleh laras salendro saja, tetapi pelog, madenda dan degungpun masuk didalamnya. Bahkan dari jumlah buku-buku nyanyian yang pernah diterbitkan, kebanyakan berupa lagu anak-anak, seperti: Kawih Murangkalih, Sari Arum sanggian Rd. Machyar Anggakusumadinata, Resep Mamaos, Taman cangkurileung, Seni suara Sunda, Sekar Mayang, Bincarung sanggian mang Koko, Sekar Ligar kumpulan uUo Ngalagena. Tercatat khusus untuk kegiatan lagu kawih anak-anak, Mang Koko membuat Yayasan Cangkurileung yang anggota-anggotanya terdiri dari murid-murid sekolah dasar dan lanjutan di seluruh Jawa Barat, setelah mang Koko meninggal dunia kegiatan di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan menjadi berkurang.

Beberapa cirri tertentu dari lagu anak-anak, antara lain:
  1. Melodi dan Ritme yang sederhana
  2. Jangkauan interval suara dan tinggi rendah nada yang terbatas
  3.   Tema lagu yang banyak berorientasi pada kehidupan anak-anak, seperti permainan, kebersihan, sopan santun dan lain-lain.
Khusus untuk lagu-lagu permainan Mang Koko dan MO Koesman mengolah secara khusus dalam buku Taman Bincarung dengan laras yang dipergunakan salendro. Dalam buku ini selain mereka belajar lagu juga diajarkan teknik permainan yang bersumber dari tema lagu. Istilah yang dipakai disebut Gerak Indriya Bincarung.

Selain bentuk-bentuk kawih dalam lagu anak-anak, juga lagu pupuh yang berjumlah 17, diajarkan sebagai dasar-dasar tembang Sunda. Kebanyakan pupuh-pupuh itu dalam bentuk rancagan, artinya tidak banyak diberi variasi seperti halnya lagu-lagu tembang yang lain.

Guguritan/pupuh

Kecap gurit asal tina basa Sangsekerta grath anu hartina nyusun karangan, dina basa Sunda aya istilah ngagurit atawa ngadangding, ari hartina sarua bae nyaeta nuduhkeun pagawean ngareka atawa nyusun karangan winangun dangsing. Nurutkeun wincikanana dangsing atawa pupuh teh aya tujuh welas, nu masing-masing ngabogaan watek nu beda beda. Istilahna:
  • Pada
  • Padalisan
  • Guru Wilangan ( jumlah engang dina unggal padalisan )
  • Guru Lagu (dangdingdungna sora vokal dina engang panungtung)
1. Asmarandana
Watekna silih asih silih pikanyaah atawa mepelingan.Unggal Pada diwangun ku tujuh padalisan.
Contona:

Eling eling masing eling ( 8 engang - vokal 'i' )
E/ling/e/ling/ma/sing/e/ling (= guru wilangan 8)
'eling' panungtung vokalna i (= guru lagu i)
rumingkang di bumi alam ( 8 - a )
darma wawayangan bae ( 8 - e )
raga taya pangawasa ( 8 - a )
lamun kasasar lampah ( 7 - a )
nafsu nu matak kaduhung ( 8 - u )
badan anu katempuhan ( 8 - a )

2. Balakbak
Watekna pikaseurieun.Unggal pada diwangun ku 3 padalisan.
Contona:

Aya warung sisi jalan rame pisan - Citameng (15-e)
Awewena luas luis geulis pisan - ngagoreng (15-e)
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet - nyanggereng (19-e)

3. Dangdanggula
Watekna bungah atawa agung.Unggal pada diwangun ku sapuluh padalisan.
Contona:

Laut Kidul kabeh katingali ( 10-i )
ngembat paul kawas dina gambar ( 10-a )
ari ret ka tebeh kaler ( 8-e )
Batawi ngarunggunuk ( 7 - u )
lautna mah teu katingali ( 9 - i )
ukur lebah lebahna ( 7 - a )
semu semu biru ( 6 - u )
ari ret ka tebeh wetan ( 8 - a )
gunung gede jiga nu ngajakan balik ( 12 - i )
meh bae kapiuhan ( 7 - a )

4. Jurudemung
Watekna kaduhung atawa hanjakal.Unggal pada diwangun ku lima padalisan
Contona:

Badan nu katempuhan ( 8 - a )
da bongan ngalajur nafsu ( 8 - u )
peurihna kapanggih ( 6 - i )
rek bongan bongan ka saha ( 8 - a )
ayeuna bati kaduhung ( 8 - u )

5. Durma
Watekna heuras atawa siap rek tarung.Unggal pada diwangun ku tujuh padalisan.
Contona:

Mundur mapag balad Pandawa teu tahan ( 12 - a )
barisan beuki ipis ( 7 - i )
digempur Kurawa ( 6 - a )
Senapatina Karna ( 7 - a )
sakti manggulang mangguling ( 8 - i )
hese pantarna ( 5 - a )
moal aya nu nanding ( 7 - i )

6. Gambuh
Watekna bingung, samar polah atawa tambuh laku.Unggal Pada diwangun ku lima padalisan.
Contona:

Ngahuleng banget bingung ( 7 - u )
henteu terang ka mana ngajugjug ( 10 - u )
turug turug harita teh enggeus burit ( 12 - i )
panon poe geus rek surup ( 8 - u )
keueung sieun aya meong ( 8 - o )

7. Gurisa
Watekna pangangguran, lulucon atawa tamba kesel.Unggal Pada di wangun ku dalapan padalisan.
Contona:

Hayang teuing geura beurang ( 8 - a )
geus beurang rek ka Sumedang ( 8 - a )
nagih anu boga hutang ( 8 - a )
munmeunang rek meuli soang ( 8 - a )
tapi najan henteu meunang ( 8 - a )
teu rek buru buru mulang ( 8 - a )
rek tuluy guguru nembang ( 8 - a )
jeung diajar nabeuh gambang ( 8 - a )

8. Kinanti
Watekna miharep atawa prihatin.Unggal Pada diwangun ku genep padalisan.
Contona:

Kembang ros ku matak lucu ( 8 - u )
nya alus rupa nya seungit ( 8 - i )
henteu aya papadana ( 8 - a )
ratuning kembang sajati ( 8 - i )
papaes di patamanan ( 8 - a )
seungit manis ngadalingding ( 8 - i )

9. Ladrang
Watekna banyol atawa pikaseurieun.Unggal Pada diwnagun ku opat padalisan.
Contona:

Aki Dartam leumpangna ngagidig ( 10 - i )
gancang pisan, gancang pisan ( 8 - a )
bari aya nu dijingjing ( 8 - i )
mawa kisa eusina ucing anakan ( 12 - a )

10. Lambang
Watekna banyol atawa pikaseurieun.Unggal Pada diwangun iu opat padalisan.
Contona:

Nawu kubang sisi tegal ( 8 - a )
nyair bogo meunang kadal ( 8 - a )
atuh teu payu dijual ( 8 - a )
rek didahar da teu halal ( 8 - a )

11. Magatru
Watekna lulucon deukeut deukeut kana prihatin.Unggal Pada diwangun ku lima padalisan.
Contona:

Mun sumuhun ieu teh namina curuk ( 12 - u )
nu alit namina cingir ( 8 - i )
anu panjang mah jajangkung ( 8 - u )
gigireunana jariji ( 8 - i )
anu pangageungna jempol ( 8 - o )

12. Maskumambang
Watekna prihatin, sasambat atawa nalangsa.Unggal Pada diwangun kiu opat padalisan.
Contona:

Jalma kedul mumul ditambah jejerih ( 12 - i )
ulah ngarep senang ( 6 - a )
sabab mungguhing rejeki ( 8 - i )
tara datang teu disiar ( 8 - a )

13. Mijil
Watekna sedih, susah atawa cilaka.Unggal Pada diwangun ku genep padalisan
Contona:

Beurang peuting tambah cape ati ( 10 - i )
jeung tambah rampohpoy ( 6 - o )
wungkul inget ka kabogoh wae ( 10 - e )
mugi aya kadar panggih deui ( 10 - i )
mun teu panggih deui ( 6 - i )
anggur pondok umur ( 6 - u )

14. Pangkur
Watekna nafsu, lumampah atawa sadia rek perang.Unggal Pada diwangun ku tujuh padalisan.
Contona:

Seja nyaba ngalalana ( 8 - a )
ngitung lembur ngajajah milang kori ( 12 - i )
henteu puguh nu dijugjug ( 8 - u )
balik paman sadaya ( 7 - a )
nu ti mana tiluan semu rarusuh ( 12 - u )
Lurah Begal ngawalonan ( 8 - a )
" Aing ngaran Jayapati " ( 8 - i )

15. Pucung
Watekna piwuruk, wawaran, atawa mepelingan.Unggal Pada diwangun ku opat padalisan.
Contona:

Estu untung nu bisa mupunjung indung ( 12 - u )
jeung nyenangkeun bapa ( 6 - a )
tanda yen bagjana gede ( 8 - e )
hirup mulus kaseundeuhan ku berekah ( 12 - a )

16. Sinom
Watekna gumbira.Unggal Pada diwangun ku salapan padalisan.
Contona:

Di wetan fajar balebat ( 8 - a )
panon poe arek bijil ( 8 - i )
sinarna ruhay burahay ( 8 - a )
kingkilaban beureum kuning ( 8 - i )
campur wungu saeutik ( 7 - i )
kaselapan semu biru ( 8 - u )
tanda Batara Surya ( 7 - a )
bade lumungsur ka bumi ( 8 - a )
murub mubyar langit sarwa hurung herang ( 12 - a )

17. Wirangrong
Watekna era atawa wirang.Unggal Pada diwangun ku genep padalisan.
Contona:

Jalma nu resep ngaluis ( 8 - i )
lumrahna resep ngaleos ( 8 - o )
ngan pacuan resep ngusut ( 8 - u )
komo mun resep ngarujit ( 8 - i )
teu aya batan basajan ( 8 - a )
sagala sigar tengahan ( 8 - a )

(Dicutat ku M Sasmita tina Ulikan Sastra karangan Drs. Taufik Faturohman)

TATAKRAMA BASA SUNDA

Nurutkeun panalungtikan Tatakrama Basa Sunda atawa sok disebut oge Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) teh wangunna saperti kieu:

I. Ragam basa hormat (Basa lemes)
Dina hakekatna digunakeunana ragam hormat teh taya lian pikeun nembongkeun rasa hormat ti nu nyarita ka nu diajak nyarita jeung ka saha nu dicaritakeunana. Ragam Basa Hormat aya dalapan rupa nya eta: 
1. Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur; 
2. Ragam Basa Lemes keur Batur; 
3. Ragam basa Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng; 
4. Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah; 
5. Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun; jeung 
6. Ragam Basa Lemes Budak.

II. Ragam basa loma (Akrab, kasar)
Basa loma atawa nu ilahar disebut basa Kasar, saenyana lain dina harti kasar henteu ngahormat, tapi kulantaran digunakeun pikeun komunikasi di antara anu geus wanoh, jeung babaturan ulin upamana. Ragam Basa Loma ieu teh aya dua rupa nya eta: 
1. Ragam Basa Loma/Akrab; jeung 
2. Ragam Basa Garihal/Songong/Kasar Pisan.
 
Ragam basa anu garihal ieu mah digunakeunana teh keur ka sato atawa digunakeun ku jelma nu keur ambek pisan.

Jadi Undak Usuk Basa Sunda anu dina Kongres Basa Sunda taun 1986 di Cipayung Bogor disebut Tatakrama basa Sunda  teh upama dijumlahkeun mah aya dalapan tahapan (ragam).

Sanajan Konferensi Kebudayaan Sunda I di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut ngusulkeun supaya Tatakrama Basa Sunda (UUBS) cukup dua tahap bae nyaeta RAGAM HORMAT jeung RAGAM LOMA, tapi dina hirup kumbuh sapopoe mah masih keneh digarunakeun TILU TAHAP/RAGAM . Ieu di handap digambarkeun POLA TATAKRAMA BASA SUNDA dina tilu Tahap/Ragam tea, nyaeta:

· Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)
· Ragam basa Lemes keur Pribadi (B)
· Ragam basa Lemes keur Batur/Lemes Sedeng ©

* Katerangan tanda: # henteu sarua; = sarua.

POLA I: A # B # C
Jumlah kecap anu make pola saperti kieu kaitung saeutik pisan (k/l 25 kecap), nu sok disebut kecap lemes keur pribadi/lemes Sedeng, ieu anu ulah salah dina ngalarapkeunana teh:
  • Balik # WANGSUL # mulih
  • Bawa # BANTUN # candak
  • Beuli # PESER # galeuh
  • Biasa # TIASA # iasa
  • Boga # GADUH # kagungan
  • Dahar # NEDA # tuang
  • Datang # DONGKAP # sumping
  • Denge # KUPING # dangu
  • Era # ISIN # lingsem
  • Gering # UDUR # teu damang
  • Imah# ROROMPOK # bumi
  • Indit # MIOS # angkat
  • Kasakit # PAUDUR # kasawat
  • Menta # NYUHUNKEUN # mundut
  • Nitah # NGAJURUNG # miwarang
  • Ngomong # SASANGGEM #sasauran
  • Nyaho # TERANG # uninga
  • Pamajikan # BOJO # garwa/geureuha
  • Poho # HILAP # lali
  • Sare # MONDOK # kulem
  • Tanya # TAROS # pariksa
  • Tenjo # TINGAL # tingali

Conto kalimahna:
  • Ari maneh balik ka lembur teh arek iraha?
  • Dupi abdi WANGSUL ka lembur teh bade enjing bae.
  • Dupi akang bade mulih ka lembur teh bade iraha?
Perhatikeun pisan pola di luhur:
A # B # C : A henteu sarua jeung B, B henteu sarua jeung C. Upama bae urang geus bisa merenahkeun ngagunakeun kecap-kecap nu ditulis ku aksara gede (kapital) nyaeta kecap-kecap nu kaasup basa Lemes keur Sorangan, urang geus henteu kudu salempang sieun salah nyarita ku Basa Sunda teh.

POLA II: A = B # C
Pola kadua mah nyaeta: A sarua jeung B, tapi B henteu sarua jeung C. Digunakeunana KECAP LOMA/KASAR pikeun ka diri pribadi, pangpangna anu tumali jeung babagian awak saperti sirah, ceuli, huntu jste, eta kudu ngagunakeun kecap Loma/Kasar, contona:
  • Huntu = HUNTU # waos
  • Biwir = BIWIR # lambey
  • Irung = IRUNG # pangambung
  • Baju = BAJU # raksukan
  • Lalajo = LALAJO # nongton
  • Ngaji = NGAJI # ngaos
  • Nginum = NGINUM # ngaleueut
  • Puasa = PUASA # SAUM
  • Samping = SAMPING # sinjang
  • Ulin = ULIN # amengan
Conto kalimahna:
  • Cenah kamari maneh nyeri huntu, enggeus ka dokter gigi acan?
  • Abdi kamari nyeri HUNTU numawi teu tiasa dongkap ka kantor.
  • Saurna bapa nyeri waos dinten kamari teh, kumaha ayeuna parantos damang?
POLA III: A # B = C
Pola katilu mah kecap anu digunakeun keur ka diri pribadi teh kudu sarua jeung kecap nu digunakeun keur batur. Jumlahna kaitung rada loba. Ieu keur sakadar conto:
  • Bungah # BINGAH = bingah
  • Eleh # KAWON = kawon
  • Kajeun # SAWIOS = sawios
  • Kungsi # KANTOS = kantos
  • Tepung # TEPANG = tepang
Conto kalimahna:
  • Jang Iwan kacida bungaheunana dumeh meunang hadiah lebaran.
  • Abdi kacida bingahna wireh kenging hadiah lebaran
  • Ibu Aminah kalintag bingaheunana wireh kenging hadiah lebaran.
Jumlahna kaitung rada loba oge, malah karereanana mah geus arapal da mindeng digunakeun sapopoe.

POLA IV: A = B = C
Pola anu kaopat ieu mah teu kudu hese mikiranana. Nu kaasup pola nu kaopat ieu teh nya eta kecap bilangan, kecap pananya, kecap panunjuk, kecap tingkatan.
  • Aya = AYA = aya
  • Sabaraha = SABARAHA = sabaraha
  • Kumaha = KUMAHA = kumaha
  • Naon = NAON = naon
  • Itu = ITU = itu
  • Ieu = IEU = ieu
  • Kahiji = KAHIJI = kahiji
  • Kasapuluh = KASAPULUH = kasapuluh
.... jeung sajabana ti eta.

Pangjangkep tatakrama basa
Ngagunakeunana Tatakrama Basa Sunda (UUBS) henteu lesot tina unsur nu ngarojongna, nya eta:
  • Lentongna nyarita (gaya nyarita, intonasi).
  • Pasemon.
  • Rengkuh (gerakna awak).
  • Tata busana.
Tapi nu jadi dadasar utama dina Tatakrama Basa mah nya eta itikad atawa kaweningan hate nu nyaritana. Kalemesan budi jeung rasa kamanusaanana. Hal ieu mah saenyana di luareun aspek basa. Tapi kacida nangtukeunana kana luhur-handapna ajen kamanusaan. Tatakrama raket tumalina jeung adat kabiasaan. Ku kituna dina ngagunakeunanana oge tangtu bae kudu nitenan kana adat kabiasaan di wewengkon masing-masing.

Kagunan (Fungsi) basa
Digunakeunana basa sabage alat komunikasi teh tangtu bae aya maksud jeung tujuanana, di antarana bae nyaeta:
  1. Kagunan Kognitif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun nepikeun elmu pangaweruh. Tatakrama basana oge kudu singget, eces jeung nyusun.
  2. Kagunan Konatif/Persuasif. Tegesna basa teh digunakeun pikeun mangaruhan batur, supaya nurut kana kahayang nu nyarita.
  3. Kagunaan Estetis. Tegesna basa teh digunakeun pikeun ngagambarkeun rasa kaendahan. Ieu oge aya tatakrama basana. Upamana bae kudu bisa gaya basa (stilistika). Nyusun kecap nu endah supaya nimbulkeun rasa endah pikeun nu macana/ngaregepkeunana.
  4. Kagunan Fatis. Tegesna nuwuhkeun rasa kataji (hormat, simpatik). Carana nyaeta bisa nyusun kecap, intonasi jeung retorika (elmu nyarita).
Cara diajar ngagunakeun tatakrama basa
Ngagunakeun tatakrama basa Sunda tangtu bae hasil tina diajar. Carana di antarana nya eta:
  1. Sering merhatikeun batur nu basana luyu tur merenah (baik dan benar).
  2. Sering maca buku nu beres susunan basana.
  3. Aya sikep kritis waktu maca atawa mun ngabandungan batur nu keur cacarita.
  4. Biasakeun nyarita ngagunakeun basa nu luyu tur merenah.
  5. Keur latihanana kudu dibiasakeun nyarita ulah rusuh teuing, jadi aya kasempetan pikeun milih jeung nyusun kalimah.
Di masarakat mah kamampuh ngagunakeun Basa Sunda, pangpangna ngagunakeun Tatakrama Basa (UUBS) kacida pentingna. Kapan aya paribasa: Hade ku omong goreng ku omong. Basa mah henteu meuli. Basa mah leuwih seukeut tibatan pedang. Aya paribasa Arab: "Kuli lisani bil Insani" anu hartina "Tambah loba basa anu urang bisa, tambah luhur niley kamanusaanana".

Nurutkeun hasil Konferensi Internasional Budaya Sunda I (KIBS I) di Bandung jeung Kongres Basa Sunda VII di Garut, ditetepkeun yen Tatakrama Basa Sunda teh (UUBS) ngan aya dua Ragam/Tahap nyaeta:
  1. Ragam BASA HORMAT, asal tujuanana nu nyarita teh hayang NGAHORMAT ka nu diajak nyaritana. Ku kituna henteu SALAH, atawa bisa dianggap BENER upama aya nu ngomong campur aduk ngagunakeun basa lemes keur batur, basa lemes keur Pribadi jeung basa lemes keur Budak, malah teu nanaon ngagunakeun basa lemes dusun/dialek oge.
  2. Ragam BASA LOMA. Ieu mah nya nu saperti ilaharna bae nu disebut basa KASAR. Digunakeunana pikeun nyarita jeung papada nu geus loma. Ngan tangtu bae ari basa garihal/songong mah tetep henteu pantes digunakeun dina cacampuran anu sopan mah.
Kitu hasil putusan KIBS I jeung KBS VII teh. Tapi tangtu bakal aya bae masalah nu disanghareupan mah, di antarana nyaeta kumaha bahan ajarkeuneun di sakola-sakola, da kapan ari di sakola mah tetep kudu ajeg dina palanggeran anu normatif. Ngan nu tetela ku kitu ku kieu ari Basa Sunda mah tetep kudu dipiara jeung digunakeun.

PARIBASA SUNDA A-Z

A
Adam lali tapel : Poho ka baraya jeung poho ka lemah cai.
Adat kakurung ku iga : Adat nu hese digantina.
Adean ku kuda beureum : Beunghar ku barang titipan atawa ginding ku pakean batur.
Adigung adiguna : Gede hulu, boga rasa leuwih ti batur, kaciri dina laku lampahna jeung.
Aya astana sajeungkal : Anu mustahil oge oge bisa kajadian.
Aya jalan komo meuntas : Eukeur mah aya maksud, turug turug aya pilantaraneun.
Aya bagja teu daulat : Arek meunang bagja atawa kauntungan tapi teu tulus.
Aya Peurah : Aya komara, aya harega , aya pangaji.
Ayakan tara meunang kancra : Nu bodo jeung nu pinter moal sarua darajatna jeung panghasilanana.
Akal koja : Pinter dina kagorenganatawa kajahatan.
Aku panggung : darehdeh jeung mere maweh, ngan hanjakal ku ieu aing asa pangpunjulna, pangbeungharna jste.
Aku aku angga : Nagku barnag baatur kalawan ngandung maksud hayang mibanda. Ngaku baraya batur anu beunghar atawa jeneng, mamrih kahormatan ataw kauntunga.
Aki aki tujuh mulud : Lalaki nu geus kolot pisan.
Alak paul : Tempatna nu lain dikieuna, ngeunaan jauhna jeung pisusaheunana.
Alak alak cumampaka : Resep jeung hayang dipuji batur, boga rasa Pangpunjulna. Anu handap hayang nyaruaan nu luhur, nu hina hayang nyaruaan nu muya.
Alus panggung : alus laur hade ome, Tegep dedeg pangadegna.
Ambek nyedek tanaga midek : Ari napssu pohara gedena, ngan masih bisa meper diri.
Anak merak kukuncungan : Sipaat-sipat nu aya di anak, babakuna nu hadena, sasarina loba anu diturunkrun ku kolotna.
Anak puputon : Anak nu kacida didama-damana, nu pohara dipikanyaah.
Anjing ngagogogan kalong : Mikahayang nu lain lain, nu pamohalan pilaksanaeun.
Aub payung, sabet panon, sabasoba : Wewengkon, ngeunaan tanah.
Ari umur tunggang gunung, angen angen pecat sawed : Ari umur geus kolot tapi hate ngongoraeun keneh.
Asa ditonjok congcot : Meunang kabungah nu gede, anu saenyana teu diarep arep.
Asa nanggeuy endog beubeureumna : Kacida nyaahna.
Asa potong leungeun katuhu : Leungiteu jalma nu pohara hade gawena.
Ati mungkir beungeut nyinghareup : Palsu, siga sono, tapi henteu. Siga suka, tapi henteu, siga nyaah tapi hanteu.
Ambekna sakulit bawang : Gampang pisan ambek, jeung mun geus ambek teu reureuh sakeudeung.
Aya jalan komo meuntas : Aya lantaran anu diarep arep ti tadina nepi ka maksud urang gancang kalaksanakeun.
Asa dijual payu : Ngungun dumeh nyorangan di panyabaan, jauh ti indung bapa.
Anjing ngagogogan kalong : Mikahayang nu moal baka; kasorang.
Anak merak kukuncungan : Turuna anu hade laku lampahna, luhur budina, galibna sok hade deui laku lampahna, luhur deui budina, cara luluhurna bae.
Asa ditumbu umur : Boga rasa kahutangan budi anu pohara gedena.
Aya jalan komo meuntas : Aya pilantaraneun atawa pijalaneun pikeun ngalaksanakeun atawa ngabulkeun kahayang.
Asa nyanghulu ka jarian : Ngawula ka anu sahandapeun umur pangarti atawa pangalaman.
Aya di sihung maung : Kulantaran loba kawawuh gegeden dina aya karerepet atawa kaperluan penting gampang naker meunang pitulungna.
Ari diarah supana, kudu dipiara catangna : Naon bae nu mere hasil ka urang kudu diurus bener bener.
B
Beuteung anjingeun : Ngeunaan ka jelema nu beuteungna cara/siga beuteung anjing.
Belang bayah gindi pikir : Boga pikiran goreng ka papada kawula.
Baleg tampele : Ari rasa tresna ka lalaki geus aya, ngan lamun papanggih jeung jelemana gede keneh kaera.
Bali geusan ngajadi : Tempat dilahirkeun.
Balung kulit kotok meuting : Teu eureun eureun nyeri hate ti baheula nepi ka kiwari.
Balungbang timur, caang bulan opat belas, jalan gede sasapuan : Beak karep ku rido jeung beresih hate.
Banda tatalang raga : Lamun urang papanggih jeung karerepet, gering upaman, euweuh halangan urang ngajual barang nu aya pikeun ngabela diri, meuli ubar sangkan waras.
Bengkung ngariung bongkok ngaronyok : Babarengan sok sanajan dina hina, rugi, atawa cilaka.
Beurat nyuhun beurat nanggung, beurat narimakeunana : Pohara narimakeunana kana pitulung, ngan teu kawasa ngedalkeun ku lisan atawa tulisan, Anging Gusti nu ningali.
Beureum paneureuy : Seuseut batan neureuy keueus, Hese pisan, seuseut seuat ngahasilkeun maksud.
Beurat birit : Hese jeung sungkan dititah.
Biwir nyiru rombengeun : Resep mukakeun rasiah sorangan atawa rasiah batur.
Biwir sambung lemek, suku sambung lengkah : Henteu milu milu kana tanggung ajwabna mah, ieu mah ngan saukur mangnepikeun dumeh jadi utusan, ngemban timbalan tinu lian.
Bobo sapanon carang sapakan : Aya kuciwana, lantaran aya kakuranganana atawa karuksakanana.
Bobor karahayuan : Henteu rahayu, henteu salamet, meunang kacilakaan atawa tiwas.
Buluan belut, jangjangan oray : Pamohalan kajadian.
Bungbulang tunda : Tunda talatah.Lamun dititah tara sok pek ku maneh, tapi sok nitah deui ka batur.
Bur beureum bur hideung, hurung nagtung siang leumpang : Ginding, loba pakean anu aralus dipake.
Buburuh nyatu diupah beas : Nyiar pangarti tur diburuhan atawa digajih.
Buruk buruk papan jati : Ka sobat atawa ka baraya mah sok hayang ngahampura bae lamun aya kasalahan teh.
Bonteng ngalawan kadu : Nu leutik ngalawan nu gede.
Buntut kasiran : Koret, medit, ngeupeul, tara pisan daek barangbere.
Biwir nyiru rombengeun : Resep ngucah ngaceh rasiah atawa kaaeban boh nu sorangan boh nu batur.
Budi santri, legeg lebe, ari lampah euwah euwah : Ari laku lampah mah kawas santri tapi sok ceceremed.
Bluk nyuuh blak nangkarak : Kabina bina rajina dina enggoning nyiar kipayah.
Bilih aya tutus bengkung : Bisi salah pokpokanana.

C
Cara bueuk meunang mabuk : Ngeluk bae, teu lemek teu carek, euweuh hojah, euweuh karep, euweuh kahayang sabab era tawa sieun.
Ciri sabumi cara sadesa : Beda tempatna, beda deui adat jeung kabiasaanana.
Caang bulan dadamaran : Migawe nu kurang mangfaat.
Cara jogjog mondok : Carekcok bae, mani gandeng naker.
Cara gaang katincak : Anu tadina rame kacida, ayeuna mah jadi jempling pisan.
Cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok : Najan bodo asal leukeun diajarna lila lila oge tangtu bisa.
Ceuli lentaheun : Sok gancang nyaritakeun ka batur naon bae anu kadenge, turtaning tacan karuhan eta beja teh bener henteuna.
Cileuncang mande sagara, Cecendet mande kiara, hunyur nandean gunung : Nyaruaan ka jelema anu saluhureun harkatna, darajatna atawa pangabogana.
Cacag nangkaeun : Hanteu beres , hanteu rata.
Cecendet mande kiara : Nu leutik nyaruaan anu gede, nu miskin nyaruaan nu beunghar.
Cara simeut hiris, tai kana beuheung beuheung : Pohara bodona, beunang dibobodo atawa ditipu ku batur.
Cangkir emas eusi delan : Omonganana mah alus nepi ka urang jadi percaya jeung kataji, tapi hatena jahat jeung matak bahaya ka urang.
Cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok : Ku dileukeunan mah sakumaha hesena ge lila laila jadi bisa.
Cicing dina sihung maung : Nganjrek di jelema anu nyusahkeun atawa bakal nyilakakeun ka diri urang.
Clik putih clak herang : Kaluar tian ahte anu beresih, rido pisan, teu aya geuneuk maleukmeuk.
Congo congo ku amis, mun rek mais oge puhuna : Kumaha arek bageurna dinu ajdi anak, lamun bapana henteu bageur.D
Dipiamis buah gintung : Disangka hade jeung bageur , tapi buktina goreng jeung jahat.
Daek macok embung dipacok : Daek ngarah kana rejeki atawa pakaya batur, tapi diarah rejekina atawa pakayana ku batur mah embung.
Dagang oncom rancatan emas : Ari modalna gede kacida, ngan batina anu diarah kacida leutikna.
Dah bawang dah kapas : Tah barangna tah duitna.
Disakompet daunkeun, dihurun suluh : Dihijikeun bae, disaruakeun bae, teu dibeda beda.
Deugdeug tanjeuran : Pada ngadeugdeug, pada nongton, sabab jadi tongtonan kulantaran pinter dina kasenian.
Deukeut deukeut anak taleus : Ari imahna mah puguh padeukeut, ngan hanjakal teu nyaho tibareto yen baraya.
Dihin pinasti, anyar pinanggih : ditangtukeunana, ngan kakara ayeuna kalakonanana atawa kapanggihna.
Dogdog pangrewong : Bantuan abu euweuh hartina, dina teu aya oge teu naon naon.
Dogong dogong tulak cau, geus gede dituar batur : Ngantian jeung mahugi parawan ti keur leutik keneh, sugan diparengkeun ku nu Kawasa jadi pipamajikaneun, na ari geus gede dikawin batur, atuh hese cape taya gawe.
Dosa salaput hulu : Kacida loba dosana.
Kacida loba dosana : Awewe mah nurutkeun bae, kumaha diaturna jeung diparentahna ku nu jadi salaki.
Duum tinggi : Ngabagikeun naon naon henteu kalawan adil aya nu loba, aya bu saeutik.
Dipiamis buah gintung : Disangka hade jeung bageur tapi buktina goreng jeung jahat.
Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban : Ari dipegat mah teu acan, ngan geus teu dipeutingan jeung teu dibalanjaan.
Daluang katinggang mangsi : Susuganan katuliskeun aya jodo (waris).
Dihin punasti anyar pinanggih : Baheula ditangtukeunana, kakara ayeuna kalampahanana. Geus kitu ti ajalina, kakara ayeuna kajadianana.
Deukeut deukeut anak taleus : Ari imah puguh oge padeukeut ngan hanjakal hanteu nyaho ti bareto, yen eta the baraya.
Ditangtang ditengteng dijieun bonteng sapasi : Dialak ilik lantaran dianggap aneh.
Ditilik ti gigir lenggik, disawang ti tukang lenjang, diteuteup ti hareup sieup : Lenjang jeung geulis pisan, pantes kewes.

E
Elmu ajug : Pinter ari mapatahan batur mah, tapi prak ku sorangan henteu.
Elmu sapi : Samiuk (ngahiji) kana kagorengan.
Elmu tumbila : Nu boga imah ngarugikeun ka tatamu.
Elok bangkong : Nuju sakarat, ngan kari tunggu dawuh bae.
Endog sapatarangan, peupeus hiji, peupeus kabeh : Kasusah atawa karerepet anu tumiba ka dulur, baraya atawa sobat, balukarna ngabingungkeun atawa nyusahkeun ka sarerea.
Endog tara megar kabeh : Najan saindung sabapa henteu sarua milikna, rejekina atawa darajatna.G
Galehgeh gado : Darehdeh tapi henteu terus kana hate : .
Gancang pincang : Kulantaran digawena buru buru jeung kurang ati ati hasilna teh teu nyugemakeun.
Gantung denge : Hanteu terus bisa ngadengekeun hiji perkara jeung pohara hayangna neruskeun ngadengekeun.
Gantung teureuyeun : Hanteu terus daharna sabab dahareunana geus beak atawa daharna kapaksa kudu eureun heula ku lantaran aya dahareun nu didagoan.
Gede gunung pananggeuhan : Adigung kulanatran boga kolot atawa baraya baleunghar ataw jareneng.
Gede gede kayu randu, dipake pamikul bengkung, dipake lincar sok anggang, dipake pancir ngajedig : Ngeunaan ka jelema anu jangkung ahrelung tur dedeg ngan hanjakal gawena jeung karajinanana goreng.
Geulis sisi, laur gunung, sonagar huma : Ari rupa mah tegep ngan dangong dusun meledug.
Gindi pikir belang bayah : Goreng hate, dolim, julig , dengki.
Ginding kakampis : Ari pake mah ginding ngan duit teu boga.
Giri lungsi tanpa hina : Nu luhur jeung nu handap sarua bae ulah dihina.
Goong saba karia : Datang sorangan ka anu keur kariaan sanajan hanteu di ondang, maksudna hayang dititah gawe sangkan seubeuh baranghakan.
Gunung tanpa tutugan, sagara tanpa tepi : Euweuh anggeusna, euweuh beakna.
Gurat batu : Pageuh kana jangji.
Getas harupateun, pinggeus harepan : Gampang pisan nyalahkeun atawa ngahukum ka batur.
Ginding kakampis : Ari pake mah ginding, ngan duit teu boga.
Gindi pikir belang bayah : Boga pikiran goreng ka papada kawula.
Gede gunung pananggeuhan : Boga ahli atawa kawawuhan anu beunghar atawa jadi gegeden, dina urang aya karerepet atawa butuh ku pitulung, eta jalma bisa nulungan ka urang ku kabeungharan atawa kakawasaan.
Gusti Alloh tara nanggeuy dibongkokna : Gusti Alloh tara nangtayungan ka mahlukna anu salah atawa boga dosa ka papada kawula.
Giri lungsi tanpa hina : Nu luhur jeung nu handap sarua bae ulah dihina.

H
Hampang birit : Gampang jeung adekan dititah.
Hayang untung jadi buntung: Teu papanggih ari jeung kauntungan mah, papanggih soteh jeung karugian anu sama sakali henteu diarep arep.
Hade gogog hade tagog : Hade basa jeung hade tingkah lakuna.
Hambur bacot murah congcot : Goreng sungutna jeung sok mindeng nyarekan deuih tapi berehan sok daek barangbere dahareun.
Handap lanyap : Handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna sok ngunghak jeung kurang ajar, temahna batur loba nu teu resepeun.
Hirup nuhun paeh dirampes : Rido pisan pasrah pisan, teu boga kahayang naon naon.
Hapa hapa ge ranggeuyan : Miskin miskin oge da boga salaki nu ngurus jeung nangtayungan.
Harewos bojong : Harewos anu cukup tarikna, nepi kadenge ku jelema anu deukeut kalawan tetela pisan.
Harus omong batan goong : Beja teh sasarina sok gampang jeung gancang nerekab, kulantaran umuna sok pabeja beja.
Hejo tihang : Resep jeung remen gunta ganti imah tempat atawa pagawean.
Herang herang kari mata, teuas teuas kari bincurang : Bareto mah beunghar ayeuna kari miskina
Herang caina beunang laukna : Nu dipikahayang bisa laksana tur teu nganyenyeri batur.
Hanteu gedag bulu salambar : Hanteu sieun atawa gimir saeutik eutik acan.
Heueuh heueuh bueuk : Nyatujuan ari diluar mah, ngan bae henteu terus jeung hatena.
Heurin ku letah : Hayang jeung perlu ngabejakeun hiji perkara, ngan sieun pok kulantaran loba karisi/ karempan
Haripeut ku teuteureuyeun : Gancang atoh dina meunangna rejeki, boh dahareun boh duit kalawan teu ngingetkeun balukarna ieu teh rejeki halal atawa haram.
Hirup dinuhun paeh dirampes : Pasrah pisan, rido pisan teu boga kahayang naon naon.
Hirup ku panyukup gede ku pamere : Hirup samahi mahi ku pamere batur bae, sabab teu purun hojah sorangan dina enggoning nyiar kipayah.
Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja : Kudu bageur kudu hade laku lampah supaya alus kacaritakeunana.
Hulu dugul dihihidan : Nu keur senang tambang senang, nu keur untung tambah untung.
Hunyur nandean gunung : Nyaruaan ka jelema saluhureun harkatna atawa pangabogana.
Hurung nangtung siang leumpang : Ginding karana make papakean atawa perhiasan anu aralus.
Halodo sataun lantis ku hujan sapoe : Kahadean anu sakitu gedena tur lilana leungit pisan ku kagorengan atawa kasalahan sapoe.
Herang caina beunang laukna : Maksud bisa kahontal kalawan beres teu aya pihak anu dirugikeun atawa dinyenyeri.
Heurin ku letah : Teu kaduga ngabongkar hiji perkara kulantaran loba karisi karempan paur jeung inggis ku balukarna.
Hapa hapa ge ranggeuyan : Enya ari miskin tea mah, ngan lumayan da ari salaki mah boga.
Hurung nagtung siang leumpang : Eukeur mang beunghar loba pakean anu aralus turug turug resep ngaginding.
L
Lain ku tulang munding kabeureuyan mah, ku cucuk peda : Arek cilaka mah ku kasalahan anu leutik oge bisa, teu kudu ku kasalahan anu gede bae.
Lauk buruk milu mijah piritan milu endogan : pipilueun kana hiji kalakuan ku lantaran kabawakeun ku batur, henteu kalawan kahayang sorangan, nepi ka goreng katenjona.
Leutik burih : Euweuh kawani.
Loba teuing jaksa : Loba teuing anu pinter nu ngatur jeung mapatahan, balukarna matak bingung nu dipapatahan.
Leuleus jeujeur liat tali : Pohara adilna, dina mutus hiji perkara tara beurat sabeulah, jeung loba pertimbanganana.
Legok tapak genteng kadek : Loba luangna pangalamanana jeung kanyahona.
Legok tapak genteng kadek : Loba luangna, loba pangalamanana.
Landung kandungan laer aisan : Gede timbanganana, gede pangampurana.
Lain lantung tambuh laku, lain lentang tanpa beja lain leumpang maladra : Indit ti imah kalawan ngandung maksud anu tangtu, lain lapmah sakaparan paran henteu puguh anu dijugjug.
Lauk buruk milu mijah piritan milu endogan : Pipilueun kana hiji kalakuan kulantaran kabawakeun kubatur, henteu kalawan kahayang sorangan nepi ka goreng katenjona.
Leubeut buah hejo daun : Keur meujeuhna loba rejeki, loba pakaya.
Leuleus Jeujeur liat tali : Memeh mutus hiji perkara salah atawa bener ditimbang timbang heula alus gorengna supaya karasa adil.
Leunggeuh cau beuleum : Teu lutreuk dina ngajalankeun hiji pagawean.
Leutik leutik ngagalatik : Sanajan leutik awakna henteu jangkung tur gede, tapi leber ku wawanen.
Leuteik ringkang gede bugang : Jelema mah teu beunang disapirakeun sabab sanajan leutik warugana, dina aya papaitna atawa bobor karahayuan mah bisa jadi kasusah sarerea.
Leutik cahak, gede cohok : Ari panghasilan saeutik tapi ari pangaluaran mah gede.
Leuwi jero beunang diteuleuman, hate jelema najan deet teu kakobet : Hade gorengna pikiran jelema hese dikira kirana.
Lieuk euweuh ragap taya : Teuing ku miskin nepi ka teu boga naon naon.
Lodong kosong ngelentrung : Kalah ka loba omong bae, ari pangartina mah euweuh.
Luhur kuta gede dunya : Gagah tur beunghar taya kakurang.
Lungguh tutut : Katenjona siga lungguh tapi saenyana mah henteu.
Luncat mulang : Teu beunang dicekelan omonganana, ayeuna kieu engke mah kitu.
Hade ku omong goreng ku omong : Omongan nu hade balukarna hade jeung omongan nu goreng, goreng deui balukarna.
Langsung saur bahe carek : Sok gampang ngagelendeng atawa nyarekan.


M
Ngagulkeun luluhur sorangan : Mun teu usaha moal pinanggih jeung rejeki pibekeleun hirup.
Mindingan beungeut ku saweuy : Ari hate goreng, ngan budi parangi marahmay, perluna pikeun mindingan hate nu goreng tea maksudna supaya ulah kaciri tea.
Mobok manggih gorowong : Meunang jalan pikeun ngalaksanakeun kahayang.
Mun teu ngakal moal ngakeul : Mun teu usaha moal pinanggih jeung rejeki pibekeleun hirup.
teri meunang japuh = Nyair hurang meunang kancra : Kalawan teu disangka sangka meunang milik, darajat atawa kauntungan anu leuwih gede.
Moal neangan jurig teu kadeuleu : Arek nyekel jelema nu aya bae, moal neangan jelema nu euweuh.
Miyuni hayam kabiri : Leutik burih babari sumerah eleh atawa lalaki nu babari sumerah ka awewe.
Mere langgir kalieun : Mere naon naon anu bisa jadi aya pisusaheunana atawa pibahlaeunana.
Muncang labuh ka puhu = Kebo mulih pakandangan : Mulang ka lemburna sabada mang taun taun aya di pangumbaraan/ panyabaan.
Manan Leweh mending waleh : Leuwih hade wakca balakabatan diahir meunang kasusah.
Mangpengkeun kuya ka leuwi : mulang ka lemburna, atawa nitah pindah ka tempat bali geusan ngajadi.
Maliding sanak : Hanteu adil, pilih kasih.
Mopo memeh munggang : Hoream, teu sanggup samemeh prak.
Mun teu ngoprek, moal nyapek. Mun teu ngakal moal ngakeul. Mun teu ngarah moal ngarih : Lamun teu digawe niar kipayah tangtu pisusaheun pikeun hirup.
Moal ceurik menta eusi : Keun bae mawa wadah anu gede oge da lain hayang loba diberena.
Monyet kapalingan jagong : Tukang maling kapalingan, tukang tipu katipu, tukang ngarah nagrinah karoroncodan.
Maut nyere ka congona : Keur ngora senang, tapi ari ka kolotnakeun susah.
Marebutkeun paisan kosong : Marebutkeun hiji perkara anu teu aya hasilna atawa mangpaatna.
Malengpeng pakel ku munding, ngajul bulan ku asiwung : Ngajalankeun (mikarep) hiji perkara anu taya pihasileunana.
Mapay ka puhu leungeun : Mamawa ka kolot atawa ka guru, turtaning kolot atawa guru mah teu nyaho naon naon jeung euweuh patalina saeutik eutik acan.
Meungpeun peureum ku ayakan : Nyaho yen batur teh salah atawa migawe anu dilarang ku Nagara, tapi teu kitu kieu kalahka api api teu nyaho.
Meungpeung teugeu harianeun : Embung pisan tutulung ka batur nu keur susah atawa loba kabutuh.
Neukteuk curuk dina pingping : Ngadakwakeun nu lian, tapi nu ngadakwakeunana meula susah, sabab milu katarik kana perkara, milu adu hareupan jeung hakim.
Mipit teu amit ngala teu menta : Maling boga batur.
Maling boga batur : Miceun nu goreng kulantaran hayang meunang anu alus, tapi tungtungna meunang nu goreng deui bae.
Mupugkeun tai kanjut : Ngetrukeun pangaboga dina waktuna nyunatan atawa ngawinkeun anak anu kacida dipikameumeutna.


N
Ngajul bulan ku asiwung, Mesek kalapa ku jara : Usaha anu mubadir, moal ngadatangkeun hasil.
Ngadu angklung di pasar : Papaduan nguruskeun nu euweuh mangpa’atna di hareupeun jalma loba.
Ngadu ngadu rajawisuna : Mawakeun omongan si A ka si B jeung sbalikna, temahna si A jeung si B pasea, parerea omong.
Ngagulkeun payung butut : Ngagulkeun luluhur sorangan.
Nulungan anjing kadempet : Nulungan jelema nu teu boga pisan rasa tumarima.
Ngadaweung ngabangbang areuy : Pohara nineungna kana jaman nu geus kasorang nepi ka matak waas pacampur jeung sedih.
Nu asih dipulang sengit, nu haat dipulang moha : Nu hade jeung loba jasana ka diri urang, dinyenyeri ku urang, ku omongan atawa ku kalakuan anu goreng.
Ngaliarkeun taleus ateul : Ngabeja bejakeun kagorengan atawa kajahatan batur.
Ngawur kasintu, nyieuhkeun hayam : Ngaraeh jeung darehdeh ka deungeun, sabab hayang kapuji, tapi teu nolih jeung nyapirakeun ka dulur atawa ka baraya sorangan.
Nginjing sila, bengkok sembah : Goreng hate, teu satia ka anu jadi pamingpinatawa dunungan.
Ngusap birit, bari indit : Kulantaran ambek nyedek atawa era paraa, leos bae indit, teu amit heula ka anu araya didinya.
naheun bubu pahareup hareup : Dina pangabutuh silih injeuman duit.
Ngabudi ucing : Teu wani nembongkeun atawa ngedalkeun kahayang atawa kadeudeuh.
Ngodok liang buntu : Hese cape taya gawe, susah payah taya guna, sanajan tihothat oge moal atawa henteu beubeunangan.
Nyolok mata buncelik : Nganyenyeri, ngahina atawa ngawiwirang di hareupeunana.
Nu burung diangklungan, nu edan dikendangan : Ngahaminan omongan atawa carita batur, sanajan ceuk hate sorangan eta omongan atawa carita teh salah.
Nu borok dirorojok , Nu titeuleum disimbeuhan : Nu keur susah ditambah kasusahanana, nu keur nyeri ditambah kanyerina.
Nyeungeut damar di suhunan : Mintonkeun kakayaan, atawa barangbere supaya dipuji.
Nyieun catur taya dapur : Nganggit hiji dongeng nu teu aya galurna.
Ngadeupaan lincar : Ngadeukeutan anu keur sidekah atawa kariaan, supaya katenjo ku anu boga imah jeung diajak dahar.
Nyieun pucuk ti girang : Pangheulana neangan piaseaeun.
Nangkeup mawa eunyeuh : Mawa cilaka ka jelema anu dipentaan tulung jeung geus nulungan ka urang.
Ngagandong kejo susah nyatu : Loba ari titaheun mah boh anak boh bujang ngan hanjakal ku hese nitah, euweuh nu daekeun ari dititah teh.
Nyium bari ngegel : 1.Omongannana hade ngan hate jeung maksudna goreng 2.salakina dipisobat ari pamjikanana dibogohan atawa sabalikna.
Ngagedag bari mulungan : Nanyakeun hiji perkara ka batur anu urang tacan nyaho, tapi embung kanyahoan yen urang tacan nyaho, kulantaran kitu api api geus nyaho bae.
Nyalindung ka gelung : Milu hirup ka pamajikan anu loba pakayana.
Nya ngagogog nya mantog : Nya nitah ka batur nya prak kumanehna.
Nyieun heuleur jeroeun huma : Henteu raket jeung dulur pahare hare bae.
Nyanghulu kajarian : Ngawula ka jelema anu sahandapeun harkatna atawa pangartina.
Nya di hurang nya dikeuyeup : Di unggal jelema oge taya bedana, sarua bae, mungguhing wiwirang atawa katugenah hate mah boh di menak boh disomah sarua bae.
Ngadek sacekn, nilas saplasna : Ngomong/nyarita anu teu dileuwihan atawa dikurangan.
Ngarep ngarep kalangkang heulang : Ngarep ngarep hiji perkara anu kacida banggana jeung sudah pihasileunana.
Ngeplek jawer, ngandar jangjang, miyuni hayam kabiri : Leutik burih, borangan, sieunan, kecing.
Ngarep ngarep bentang ragrag : Ngarep ngraep nu pamohalan bakal kasorang atawa kajadian.
Nu edan dikendangan, nu burung diangklungan : Ngahamina carita tukang wadul.
Ninggang kekecrak : Keur mah goreng rupana, goreng laku lampahna deuih.
Ngeupeul ngahuapan maneh : Lungas lengis mikawelas mikaasih ka diri sorangan, supaya batur welaseun jeung nulungan ka urang.
Ngodok liang jero : Teu hasil enggoning nyiar rejeki, kaditu kadieu luput bae.
Ngadagoan kuah beukah : Ngadagoan pasesaan kadaharan ( Hal ieu ngan wungkul tukang babantu di imah batur bae, anu saenyana mah ayana tukang babantu teh henteu perlu)
Ngukur ka kujur nimbang ka awak : Ngaluarkeun duit pikeun kaperluan hirup, pakan, pake jste disaluyukeun jeung pangala.
Ngukut kuda kuru ari geus gede sok nyepak : Ngukut bujang anu tadina pohara balangsakna, susak dahar susah make, tapi ari geus mulya awak lintuh jeung pake hade, ngalawan ka anu jadi dunungan.
Nete porot ngeumbing lesot : Cukup ari ihtiar mah kalawan mangrupa rupa akal tarekah tapi teu hasil bae.
Ngaliarkeun taleus ateul : Ngabeja bejakeun kagorengan batur atawa kajahatan anu lian.
Nimu luang tinu burang : Nambahan luang atawa pangarti waktu keur pinanggih jeung kacilakaan atawa hukuman.
Nini nini dikeningan, awewe randa dihiasan : Ngamahalkeun barang naon bae anu geus ruksak.
N
Nyeri beuheung sosonggeteun : Pohara ngarep ngarepna, tapi anu diarep arep teu jol bae datang.
Nyiruan mah teu resepeun nyeuseup nu pait : Lumrahna manusa teu resep reureujeungan jeung nu teu boga.
Ngadagoan uncal mabal : Ngadagoan jeung mikahayang kana rejeki tapi sungklan ihtiar pikeun ngadatangkeun eta rejeki.
Nincak parahu dua : Ngadunungan ka duaan atawa boga dua pausahaan.
Nya picung nya hulu maung : Nu nanya jeung nu ngajawab teu sapagodos, pananya jeung jawaban pasalia, henteu nyambung.
Nyalindung ka gelung : Milu hirup ka pamajikan anu loba pakayana, nu dipalar milu hirup senang, teu karana hese jeung cape.
Nyieun pucuk ti girang : Neangan pilantaraneun pasea, parebut bebeneran.
Nu borok dirorojok, nu titeuleum disimbeuhan : Nu keur susah ditambah deui kasusahna.
Nyaeuran gunung ku taneuh, sagara ku uyah : Nambahan kauntungan atawa kakayaan ka anu geus beunghar.
Nyaliksik ka buuk leutik : Nyusahkeun, peperedih atawa pepentaan ka jelema anu sahandapeun darajatna jeung pangabogana.
Nyair hurang meunang kancra : Sugan the rek meunang kauntungan, kamuliaan atawa bagja anu leutik manahoreng meunang kauntungan atawa bagja anu gede.
Nyanggakeun suku genteng belokeun, beuheung teukteukeun, disiksik dikunyit kunyit, dicacag diwalang walang : Sumerah, masrahkeun diri rek dibeureum rek dihideung kari kumaha didinya bae, dina rumasa geus salah atawa rumasa boga dosa.
Nete semplek nincak semplak : Ninggang dina salah jeung rugi bae, turug turug kasusah nambahan deuih.
Nyeungeut damar di suhunan : Kulantaran pupujieun ari ka deungeun mah darehdeh jeung mere maweh, tapi ari kabaraya atawa ka dulur sorangan mah sabalikna haseum budi jeung koret deuih.
Nyeungseurikeun upih ragrag : Akey akeyan nyeungseurikeun batur, dumeh buuk geus bodas huntu geus ompong, tonggong geus bengkung turtaning ieu the kahareup mah ku urang sarerea bakal kasorang.
Nyiar batuk piaraheun : Nyiar pigujrudeun, pipaseaeun.
Nyiuk cai ku ayakan : Pagawean nu mubadir, moal ngahasilkeun naon naon.
Nyuhun nanggung ngelek ngegel : Rebo pisan, babawaanana loba naker.
Ngaliarkeun taeus ateul : Ngucah ngaceh perkara atawa rasiah batur anu matak ribut jeung teu ngeunah ka sarerea.
Nangtung kariung ngadeg karageman : Ngariung rarageman ngabadamikeun hiji perkara.
Nu tani kari daki, nu dagang kari hutang : Nu tani jeung nu dagang sarua ripuhna, euweuh nu mulya.
Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju : Menta pangampura jeung menta timbangan da geus puguh rumasa ari salah jeung dosa mah.
Nepakeun jurig pateuh : Puguh urang nu goreng tapi kagorengan urang teh ditamplokeun ka batur sangkan urang sorangan salamet.
Nepakeun jurig pateuh : Puguh urang nu goreng tapi kagorengan urang teh ditamplokeun ka batur sangkan urang sorangan salamet.
Nete taraje, nincak hambalan : Kudu merenah, lamun aya uruskeuneun teh urang kudu datang ka nu handap heula, kakara terus kaluhur.
Nete semplek nincak semplak : Kieu salah kitu salah.
Nepak cai malar ceret : Ngomongkeun jeung ngagogoreng batur, supaya batur teh ragrag ngarana jeung kawentar kagorenganana.
Neukteuk mari anggeus, rokrok pondokeun peunggas harupateun : Heuras hatena teu sabar dina nyanghareupan rupa rupa kasusahan jeung babari luluasan.
Neundeun piheuleut nunda picela : Neangan pilantaraneun supaya jadi goreng supaya temahna papisahan teu ngahiji deui.
Nyicikeun cai, murulukeun lebu : Turun cadu (cacaduan), pantang ngalampahkeun hiji perkara anu dilarang ku luluhur.
Nyokot lesot ngeumbing porot : Teu aya usaha anu ngahasilkeun.
Nyolok mata buncelik : Nganyenyeri ka batur ku omongan atawa ku laku lampah goreng di hareupeunana.
Nuju hirup ninggang wirahma : Ngeunaan ka jelema anu keur alus milik.
Noong ka kolong : Leutik hate, leutik pangharepan.
Nyukcruk walungan mapay mapay wahangan : Kalawan taliti pisan nalungtik luluhur, imeut pisan pancakakina.
Nu edan dikendangan, nu burung diangklungan : Ngahamina carita tukang wadul.
Nepakeun jurig pateuh : Puguh urang nu goreng tapi kagorengan urang teh ditamplokeun ka batur sangkan urang sorangan salamet.


O
Omong harus batan goong : Beja the gancang naker nerekabna, malah sasarina mah beja anu nerekab teh leuwih hebat batan aslina.
Owah gingsir : Hanteu tetep, henteu ajeg, gunta ganti pamadegan.

P
Paanteur anteur julang : Silih anteur nepi ka aya dua tilu kalina.
Pait daging pahang tulang : Cageur teu keuna ku panyakit naon bae.
Paluhur luhur diuk : Pagede gede kauntungan dina nyiar kipayah.
Piit ngeundeuk ngeundeuk pasir : Mikarep kaanu lain babadna, tangtu moal kasorang.
Pagirang girang tampian : Paunggul unggul nyiar rejeki, teu daek silih seblokan.
Pakotrek iteuk : Laki rabi ti ngongora napi kakolot pisan, pada pada geus jadi aki-aki nini-nini.
Pipilih meunang nu leuwih koceplak meunang nu pecak : Milih kalawan ati ati pisan ku lantaran hayang meunang nu leuwih hade, ngan ahirna meunang nu leuwih goreng
Pur kuntul kari tunggul, lar gagak kari tunggak, tunggak kacuwatan daging : Dian cidrana anu diboreha, boreh anu katempuhan, kudu mayaran hutang anu dipangnanggungkeun.
Paheuyeuk heuyeuk leungeun : Silih bantuan, silih belaan, silih tulungan.
Papadon los ka kolong : Cidra jangji, teu nedunan jangjina.
Pait daging pahang tulang : Carang gering.
Panday tara bogaeun bedog : Sasarina ari tukang mah sok tara bogaeun.
Pacikrak ngalawan merak : Tangtu elehna sabab nu leutik ngalawan anu gede.
Pelengkung bekas nyalahan : Ari keur ngora keneh bageur tapi kakolotnakeun jadi teu bageur.
Peureum kadeuleu beunta karasa : Inget bae, teu bisa poho. Boasana mah lain kana barang tapi ka jelema anu dipikancinta.
Pipilih meunang nu leuwih koteplak meunang nu pecak : Milih kalawan taliti naker, kulantaran hayang meunang nu pang alusna, tapi temahna meunang nu panggorengna.
Pinter aling laing bodo : Pinter tapi embung kanyahoan ku batur, kusabab eta nyeta nyeta anu bodo.
Puasa manggih lebaran : Anu saumur umur miskin tuluy dina hiji waktu papanggih jeung kamuliaan, atawa manggih rejeki anu gede.
Pupulur memeh mantun : Menta ganjaran memeh aya jasa atawa menta buruhan memeh prak digawe.
Puraga tamba kadengda : Migawe hiji pagawean henteu jeung enya enya. Henteu ngandung maksud supaya hade hasilna ieu mah pada ulah dipaido bae.
Pada rubak sisi samping : Sarua bae pada loba luangna, pada loba pangalamanana.
Piruruhan katengahimahkeun : Nu dusun didikan dibawa kana pasamoan.
Pagirang girang tampian : Paunggul unggul dina neangan pangupa jiwa.
Pida cai pindah tampian : Robahna tempat matuh robah adat jeung kabiasaan.


R
Rumbak kuntieun : Henteu lengkep, aya bae anu kurang nu matak cua kana hate.
Rup ku padung rap ku lemah, katuruban ku taneuh beureum : Maot. Sasarina ngeunaan kanyeri anu satungtung hirup moal poho sanajan nepi ka maot.
Raweuy beuweungeun rambay alaeun : Loba dahareun da loba pepelakan.
Rusuh luput gancang pincang : Migawe naon bae anu rurusuhan, temahna matak kaduhung sabab hasilna teu matak nyugemakeun.
Rumbak caringin di buruan : Dina hiji kasusah atawa karerepet geus boga teu boga kolot anu mepelingan ka urang.

S
Seukeut ambeu seukeut deuleu : Loba matamatana jeung pinter nyusud perkara (keur pagawean pulisi).
Sentak badakeun : Teu ceehan dina gawe, mimiti pohara getolna, tapi beuki lila beuki ngedul nu tungtungna teh diantep teu dipigawe pisan.
Sabuni buni anu ngising : Sanajan dibunian atawa disumputkeun oge ari laku lampah anu goreng mah awal akhir sok kudu knyahoan bae.
Sereg dipanto logor diliang jarum : Nyingkahan hirup kumbuh jelema loba, sabab loba dosa, loba kasieun jeung kaera, betahna dinu suni nu teu aya jelema.
Sagalak galakna macan taru nyatu anakna : Sanajan pohara bengisna nu jadi indung-bapa, umuna tara tega ka anu jadi anak.
Saherang herangna cai beas : Galibna hate teh hese pisan beresihna ka jelema anu geus bukti tas nganyernyeri ka urang.
Sakecap kadua gobang : Gampang ngambek jeung gampang ngadek deuih.
Sakririciking duit sakocopoking bogo : Naon bae anu matak narik kana hate urang.
Sibanyo laleur : Ledis pisan, teu nyesa saeutik eutik acan.
Satengah buah leunca : Teu jejeg ingetan, langlang lingling, kurang saeundan.
Sapu nyere pegat simpay : Paturay papisahan.
Saumur nyunyuhun hulu : Saumur hirup rumingkang di bumi alam.
Sengserang padung : Ngeunaan awewe atawa lalaki anu boga keneh napsuna cara baheula keur ngora keneh, sasarina aya di jelema nu geus kolot, nu tereh paeh.
Sagolek pangkek sacangreud pageuh : Hanteu cidra kana jangji.
Seuneu hurung dipancaran : Nu keur nafsu, heug ditambahan pisan pikakeuheuleun, tangtu bae ngambekna jadi tambah.
Saungkab peundeuy : Omongan anu pondok tur kurang manis.
Sabobot sapihanean : Sauyunan, sapapait samamanis sabagja sacilaka.
Saluhur luhur punduk tara ngaliwatan hulu : Sapinter pinterna murid pangartina moal ngaluhuran guru.
Sareundeuk saigel sabobot sapihanean sabata sarimbangan : Sauyunan, layeut, tara aya pacengkadan.
Sangsara di geusan betah : Teuing ku miskin, teu boga naon naon pisan kulantaran geus embung digawe nyiar kipayah. Anehna the ari hirup mah hayang keneh.
Sereg dibuana logor diliang jarum : Kulantaran loba kasalahan atawa dosa, embung cicing di nu rame, sabab sieun, karesepna the di nu suni, nu euweuh jelema.
Seuneu hurung cai caah : Keur ambek, keur amarah, keur napsu.
Seuseut batan neureuy keueus : Hese pisan
Sirung ngaliwatan tunggul : Darajat atawa milik anak ngaliwatan bapa.
Sosoroh ngadon kojor : Kikiriman ku lantaran aya pangarahan tapi boro boro meunang kauntungan, kalahka meunang wiwirang jeung karugian.
Seukeut tambang manan gobang : Sakumaha gagahna wanina jeung ngalawana oge jalma jahat mah awal ahir tangtu katangkep pulisi.
Saherang herangna cibeas, moal herang cara cisumur : Sasarina lamun geus aya pacengkadan sok tara hade deui cara bareto samemeh aya pacengkadan.


T
Teu puguh alang ujurna : Teu puguh entep seureuhna, teu beres lain kitu kuduna.
Teu diambeuan : Teu dipikarisi, teu dipikagimir.
Tikoro andon peso : Ngdeukeutan jelema nu bakal ngahukum atawa nganyenyeri ka diri urang.
Tototpong heureut dibeber beber, tangtu soeh : Nyukupan ku pangala nu sakitu saeutikna, tangtu bae matak jadi susah, lamun rejeki atawa pangala saeutik, ari keperluan jeung pangaluaran anu sakitu lobana.
Teu mais teu meuleum : Teu aya patalina pisan, teu pipilueun.
Teu nyaho di alif bingkeng : Bodo teu bisa maca-maca acan, da teu sakola.
Teu ngalarung nu burung, teu nyesakeun nu edan : Ngalajur nafsu ka awewe, ka anu halal jeung anu haram oge disaruakeun bae.
Teu busik bulu salambar : Teu rogreg rogreg, malah unggul dina juritna.
Teu didingding kelir : Teu dibuni buni, ditembrakeun bae, teu dirasiahkeun.
Teu gugur teu angin : Samemeh kajadian naon naon, teu aya pisan beja, lantaran atawa ciciren.
Taya halodo panyadapan : Terus bae digelendeng atawa dicarekan.
Teui hir teu walahir, teu kakak, teu caladi teu aro aro acan : Teu baraya, teu kaka, teu adi teu alo alo acan. Deungeun deungeun tulen.
Teu nginjeum ceuli teu nginjeum mata : Ngadenge jeung nenjo sorangan lain cenah jeung baruk.
Tinggar kalongeun : Teu sieun atawa teu nurut kulantaran remen teuing digelendeng atawa dicarekan.
Teu beunang dikoet kunu keked : Teuing ku koret, tara pisan tutulung ka nu butuh tatalang ka nu susah.
Teu jejeg ingetan, langlang lingling, kurang saeundan : Menta dihampura tina rumasa geus salah atawa boga dosa.
Teu aya sarebuk samerang nyamu : Teu aya saeutik eutik acan.
Teu mais teu meuleum : Teu pipilueun teu aya patalina naon naon.
Tunggul diparud catang dirumpak : Euweuh anu dipikaserab, terus bae ngalajur nafsu.
Ti peuting kapalingan ti beurang kasayaban : Sababaraha kali karurugian atawa karoroncodan.
Teu boga pikir rangkepan : Teu boga curiga saeutik eutik acan.
Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan : Junun nyanghareupan pagawean anu dipilampah, teu kaganggu ku naon naon.
Taya halodo panyadapan : Taya eureuna digelendeng atawa di dicarekan.
Titip diri sangsang badan : Mihapekeun maneh.
Teu dipiceun sasieur : Sarua pisan teu aya bedana saeutik eutik acan.
Tamiang meulit ka bitis : Meunang wirang ku lantaran ngucah ngaceh rasiah batur.
Tamplok batokeun : Berehan teuing nepi ka urang mah susah.
Teu ditari teu ditakon : Teu dipalire diantep bae, teu ditanya tanya acan.
Teu jauh ti tihang juru teu anggang ti tihang tengah : Nya goreng rupana nya goreng kalakuanana sok daek pulang paling.
Tiis ceuli herang mata : Ngeunah hate kulantaran ngeunah deudeuleuan jeung dedengean
Tipu keling ragaji Inggris : Pinter dina kajahatan, pinter dina ngbobodo atawa nipu.
Titirah ngadon kanceuh : Sejana nyiar kasenangan, tapi jadina pinanggih jeung kasusah nu leuwih gede.
Teu cari ka Batawi tapi ka salaki : Hakan pake hayang ti salaki.
Tugur tundang cuntang gantang : Ngajalankeun pagawean pikeun Nagara, babakti ka nagara.
Tunggul sirungan, catang supaan : Aya kajadian anu goreng atawa matak teu genah ahirna.
Teu wawuh wuwuh pajauh, teu loma tambah paanggang : Sing wawuh tur sing loma sabab balukarna alus pisan.

U
Ulah kabawa ku sakabakaba : Ulah kabawa ku nu teu puguh, maksudna : kabawa jurig, dedemit.
Ulah beunghar memeh boga : Ulah adigung nyeta nyeta anu beunghar, turtaning henteu atawa tacan boga pakaya.
Ulah tiis tiis jahe : Kudu iatna, kudu cingceung.
Ulah muragkeun duwegan ti luhur : Masing nyaah kana rejeki meunang hese cape ladang kesang, pacuan arek dimonyah monyah.
Ulah unggut kalinduan ulah gedag kaanginan : Ulah kagoda, ulah kaganggu atawa kabengbat ku rypa rupa, lamun urang keur nyanghareupan hiji maksud anu hade.
Ulah cara ka kembang malati kudu cara ka picung : Ulah sok bosenan ari ka pamajikan teh, hadena mah ti keur ngora keneh nepi ka geus kolot teh, lain beuki lila beuki bosen tapi kudu beuki lila beuki welas asih.
Ulah cara ka malati kudu cara ka picung : Ulah ngurangan kanyaah kudu beuki lila beuki nyaah.
Uyah tara tees kaluhur : Galibnma sifat indung bapa anu harade atawa anu goreng sok diturunkeun ka anak incuna.
Ulah pangkat memeh jeneng : Ulah adigung adiguna hayang nyaruaan ka nu geus jeneng.
Uncal tara ridu ku tanduk : Duduluran karumpul kabel.

W
Wiwirang di kolong catang nya gede nya panjang : Wiwirang nau pohara gedena.
Waspada permana tingal : Bisa nyaho kana naon naon anu bakal kajadian
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...